Breaking News
Polhukam

Titiek Soeharto: Kemajuan Pertanian Maroko Bisa Dicontoh Indonesia

×

Titiek Soeharto: Kemajuan Pertanian Maroko Bisa Dicontoh Indonesia

Sebarkan artikel ini

PARLEMENTARIA.COM– Maroko, negara agraris berpenduduk mayoritas muslim di belahan Barat Afika, ternyata memiliki pabrik pembuatan pupuk yang sangat baik dan modern.

Kemajuan pertanian negara berpenduduk 35,28 juta jiwa tersebut bisa menjadi contoh buat tidak hanya petani tetapi pemerintah Indonesia. Apalagi, Maroko menawarkan kerja sama bidang pertanian kepada Indonesia.

Hal itu terungkap dalam kunjungan Duta Besar Maroko untuk Indonesia, Quadia Benabdellh ke parlemen Indonesia, Kamis (18/1). Dalam kunjungan itu, Quadia diterima anggota Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI, Siti Hediati Soeharto yang didampingi anggota BKSAP yakni Putu Supadma Rudana, Nurhayati dan Siti Masrifah.

Putri penguasa Orde Baru itu kepada Quadia yang datang bersama staf Kedubes Maroko di Jakarta menyampaikan bahwa BKSAP menyambut baik tawaran kerja sama ini dengan berkunjung ke Maroko.

“Kami akan melakukan kunjungan teknis ke Maroko untuk meningkatkan kerja sama Indonesia-Maroko. Indonesia bisa menjajaki kerja sama pertanian untuk meningkatkan produksi pangan nasional,” jelas Titiek, sapaan akrab Siti Herdiati Soeharto itu.

Selain pupuk, Maroko juga memproduksi bibit pertanian berkualitas baik. Untuk itu, BKSAP berkepentingan bertemu dengan para anggota parlemen di Maroko terutama yang membidangi pertanian.

Tukar menukar informasi dan transfer pengetahuan bisa dilakukan kedua negara. Kita ingin bertemu anggota parlemen Maroko yang membidangi pertanian,” jelas putri kedua Presiden Soeharto itu.

Pada kesempatan tersebut, Titiek juga menyampaikan angka perdagangan kedua negara masih relatif rendah, bahkan turun. BKSAP pun bisa meminta masukan terlebih dulu dari Kadin sebelum berkunjung ke Maroko.

“Apa saja yang bisa diekspor dan diimpor dengan Maroko. Kita akan bertemu dengan parlemennya supaya bisa mendorong perdagangan kedua negara ini lebih tinggi lagi,” demikian Siti Hediati Soeharto. (art)

Komentar