Polhukam

Komite Politik Sidang AIPA 39 Tanpa Hasilkan Resolusi

PARLEMENTARIA.COM – Komite Politik pada Sidang Umum ke-39 ASEAN Inter-Parliamentary Assembly (AIPA) yang membahas isu-isu politik, demokrasi, HAM, dan lain-lain, berakhir tanpa satu pun resolusi yang dihasilkan. Draf resolusi menyangkut situasi kemanusiaan Rohingya usulan DPR RI ditolak Parlemen Myanmar.

Karena Parlemen Myanmar menolak draf resolusi tersebut, maka Delegasi DPR RI yang dipimpim Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon juga menolak semua usulan draf resolusi lainnya yang sudah dibahas Komite Politik pada Sidang AIPA di Singapura, Rabu (05/9/2018).

Mekanisme pengambilan keputusan lewat konsesus membuat pengambilan keputusan kerap mandek. Bila ada satu negara saja tak setuju, maka keputusan tidak bisa diambil oleh komite. Inilah yang terjadi pada Komite Politik.

Akhirnya, tak ada resolusi yang dihasilkan, karena saling memveto. Fadli mengemukakan hal itu usai mengikuti rapat maraton dari pagi hingga sore hari. Isu sensitif dan krusial menyangkut Rohingya paling banyak mendapat perhatian.

Fadli yang didampingi Anggota Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI Jazuli Juwaini mengaku kecewa dengan sikap Parlemen Myanmar. “Sudah jelas ada pelanggaran hak asasi di sana, hingga PBB menyatakan ada genosida yang dilakukan Pemerintah Myanmar,” katanya.

Sebelumnya, sidang sempat diskor dua kali karena alotnya pembahasan. Fadli dan Jazuli sebetulnya sudah ingin meninggalkan ruang sidang sebagai protes atas sikap Myanmar. Namun, pimpinan sidang memanggilnya kembali untuk tetap duduk. Ketika pimpinan sidang meminta sikap parlemen ASEAN lainnya, sebagian ada yang menyatakan absen atas persoalan Rohingya. Resolusi pun gagal dituangkan.

“Kami membawa amanah rakyat Indonesia untuk memperjuangkan nasib masyarakat Rohingya. Saya sendiri sudah melihat langsung penderitaan yang menimpa masyarakat Rohingya di perbatasan Banglades. Para wanita diperkosa, keluarganya dibunuh, dan rumahnya dibakar,” ungkap Fadli.

Sikap Fadli dan Jazuli ini menunjukkan konsistensinya untuk memperjuangkan hak paling mendasar atas HAM. Sikap tersebut mendapat apresiasi dari para koleganya dan sebagian parlemen ASEAN. (chan)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top