Polhukam

Dukungan Mengalir, Terbuka Peluang TGB Diusung Koalisi Demokrat Maju Pilpres 2019

PARLEMENTARIA.COM– Masih terbuka peluang untuk Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Zainul Majdi yang akrab disapa Tuan Guru Bajang (TGB) diusung Partai Demokrat pada pemilihan presiden (Pilpres) 2019.

Tidak hanya karena populeritas TGB yang bakal menghabiskan dua periode jabatannya sebagai orang nomor satu di NTB tersebut terus naik setelah melakukan safari politik ke berbagai daerah di tanah air tetapi juga yang bersangkutan adalah kader partai berlambang Bintang Mercy ini.

Sekjen Partai Demokrat, Hinca Pandjaitan menegaskan, masih terbuka peluang buat anak bangsa baik yang dalam lingkungan Partai Demokrat maupun tidak untuk diusung sebagai calon presiden (capres) atau calon wakil presiden (cawapres) pada Pilpres mendatang.

“Masih ada waktu buat siapapun anak bangsa guna meningkatkan popularitas. Semua orang boleh, siapa saja. Kami bisa membuat yang terbaik dari kami. Dari luar kami. Keniscayaan, kali ini Partai Demokrat tak bisa sendirian mengusung capres-cawapres,” ungkap Hinca kepada awak media di Gedung Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (29/3).

Wakil rakyat dari Dapil Sumatera Utara itu mengatakan, Partai Demokrat harus berkomunikasi dengan partai lainnya agar syarat 20 persen mengajukan presiden terpenuhi. Lalu, ketika akan berkoalisi tentu harus ada perbincangan soal pasangan.

Saya melihat, kata Hinca, banyak sekali yang akan bermunculan dan itu bagus. Negeri ini punya banyak resources, sehingga siapa saja, mau TGB, Gatot Nurmantyo, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) atau yang lainnya.

“Masih ada waktu empat bulan untuk para melakukan sosialisasi, mendekati rakyat, bicara, menaikkan popularitas. Kalau saya bilangnya menaikkan NJOP masing-masing,” lanjut Hinca.

Dengan banyaknya calon, kata Hinca, nantinya partai-partai yang akan mengusung punya keleluasaan memilih. Sebab, nantinya partai yang akan mendaftarkan calonnya ke Komisi Pemilihan Umum (KPU).

“Biarkan saja semua bekerja keras, TGB, mau AHY siapa saja, biarkan pula partai-partai bebas memilih siapa yang akan diusung, sekali lagi enggak ada satu pun parpol yang bisa usung sendirian,” kata Hinca.

Sementara itu, dukungan buat TGB maju terus mengalir. Bahkan mereka yang tergabung dalam Forum Komunikasi Pemuda Tani (FKPT) Sumatera Barat sudah mendeklarasikan dukungan kepada TGB di Padang bulan lalu.

Juru Bicara FKPT Sumbar, M Arif mengatakan, dukungan kepada TGB dari para pemuda tani Sumbar muncul setelah melihat komitmen dan prestasi TGB terhadap pembangunan pertanian, pemerataan ekonomi dan pemberantasan kemiskinan, selama menjabat sebagai Gubernur NTB. “Kami berharap prestasi ini bisa dilanjutkan di level nasional,” kata Arif.

Dijelaskan, di bidang pertanian, komitmen TGB bisa dinilai dari keberaniannya menjadikan sektor ini sebagai unggulan pembangunan ekonomi. Selain itu juga komitmen yang bersangkutan tentang pembangunan pariwisata.

“Beliau berani untuk menyingkirkan sektor pertambangan yang dinilai hanya memberikan keuntungan kecil, tidak menciptakan pemerataan dan berdampak buruk pada lingkungan,” ucap Arif.

Tak hanya komitmen, lanjut Arif, TGB juga menunjukkan kinerja sangat baik di bidang pertanian. Salah satunya adalah komoditas padi dan jagung di NTB yang mengalami surplus produksi. Produksi padi NTB per tahun mencapai 2,3 juta ton, sedangkan jagung mencapai 2,1 juta ton per tahun.

Selain itu TGB juga menunjukkan pembelaan terhadap produksi pangan lokal dengan menolak impor. Saat pemerintah pusat memutuskan untuk melakukan impor beras, dan beras impor itu hendak dimasukkan ke NTB, TGB menolak.

Dia bahkan berani meminta pemerintah pusat lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan impor beras, dan mengingatkan pemerintah pusat agar tidak mendemoralisasi petani dengan impor.

Walau hanya gubernur, TGB juga berani bersikap kritis terhadap pemerintah pusat terkait impor jagung. “TGB protes karena jagung petani dihargai Bulog Rp 2 ribu hingga Rp 2.500 per kg. Namun, Bulog ternyata mengimpor jagung dengan harga Rp 3.000 per kg.

Jika harga jagung petani dihargai sama dengan jagung impor, kesejahteraan petani akan lebih meningkat. Saat ini tingkat kesejahteraan petani secara relatif terus menurun.

Nilai tukar produk pertanian terus menurun dibanding nilai tukar produk industri. “Keteguhan TGB ini terbukti karena ternyata sektor pertanian yang dibangun justru menjadi pemicu tumbuhnya perekonomian sekaligus pemerataan ekonomi di NTB,” demikian Arif. (art)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top