PARLEMENTARIA.COM– Ketua MPR RI, Zulkifli Hasan mengatakan, cita-cita pendiri bangsa memerdekan Indonesia dan terjadinya reformasi 19 tahun lalu adalah adalah untuk mensejahterakan seluruh rakyat Indonesia.
Namun, setelah 19 tahun reformasi berjalan, bukan kesejahteraan seluruih rakyat Indonesia yang didapat, melainkan terjadinya kesenjangan yang semakin lebar diantara rakayat Indonesia.
Itu dikatakan Zulkifli Hasan ketika menjadi pembicara sekaligus menutup Pengkajian Ramadhan Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah di Kampus Universitas Muhammadiyah Cirendeu, Pasar Jumat, Jakarta Selatan, Rabu (7/6).
Padahal, lanjut Ketua Umum DPP Partai Amanat Nasional (PAN) tersebut, sesuai dengan Pancasila sebagai ideologi bangsa, ekonomi Indonesia itu adalah ekonomi kekeluargaan dan gotong royong.
“Ini merupakan persoalan yang harus diselesaikan bersama,” kata anggota Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) jilid II pimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tersebut.
Di negara yang berlandaskan pancasila, kesenjangan demikian tidak boleh terjadi. Karena itu, Zulkifli mengajak para pemuda Indonesia berperan sehingga apa yang dicita-citakan kesejahteraan untuk seluruh rakyat Indonesia tercapai.
Lebih jauh dikatakan, dalam negara demokrasi, yang berdaulat itu adalah rakyat. Kedaulatan itu berguna kalau rakyat tersebut sadar akan kedaulatan yang dimiliki,
Namun, kata dia, banyak rakyat yang tidak sadar dengan kedaulatan yang dimiliki sehingga dengan mudah digadaikan dengan imbalan sembako atau NPWP saat terjadi pemilu.
Pejabat negara, kata dia, sesuai dengan sumpah dan janjinya, harus melayani rakyat. Namun, ada pejabat yang pura-pura tidak mengerti dengan tugasnya. “Bahkan, tidak jarang pejabat atau kepala daerah yang berselingkuh dengan para pengusaha,” demikian Zulkifli Hasan. (art)






