PARLEMENTARIA.COM– Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto mengingatkan perlunya semua pihak untuk bersiap menghadapi ancaman teroris dengan jalan menguatkan kerjasama baik secara bilateral, regional maupun global.
Itu dikatakan Wiranto ketika tampil sebagai pembicara dalam Counter Terrorism Confrence (Konperensi Kontra Teroris) di New Delhi, India, Selasa (14/3). Kegiatan ini penampilkan sekitar 50 pembicara dari berbagai negara untuk mengupas tuntas permasalahan terorisme di dunia.
Wiranto dlam siaran pers Humas Kemenkopolhukam yang diterima Parlementaria, Kamis (16/3) menyebutkan, kegiatan yang digelar sampai 16 Maret itu merupakan pertemuan tahun ketiga yang digagas oleh Indian Foundation.
“Ancaman teroris ini seharusnya menjadi pengingat, bahwa kita harus terus mempersiapkan diri serta melakukan segala daya upaya yang diperlukan guna mencegah dan melawan kejahatan yang luar biasa ini,” kata Ketua Dewan Pembina sekaligus deklaratos Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) ini.
Dikatakan, tantangan ke depan adalah bagaimana menerapkan berbagai strategi guna menangkal terorisme seperti memperkuat penegakan hukum, mengontrol perbatasan serta melakukan pertukaran informasi antara negara asal, negara transit dan negara tujuan.
Pertemuan seperti konferensi ini, kata dia, dapat menjadi pemersatu berbagai negara untuk melawan teroris. Karena itu, diharapkan semua keinginan, perspektif, program, dan rencana-rencana dalam melawan teroris dapat terus terealisasikan. Contohnya, bagaimana Indonesia menanggapi berbagai ancaman teroris yang terus berdatangan.
“Kami menggunakan pendekatan keras dan lembut. Dalam pendekatan keras kami memburu grup-grup teroris, memecah mata rantai mereka, dan melakukan penegakan hukum yang terus-menerus. Ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak pernah menoleransi adanya teroris, dan kami berkomitmen mengejar hingga kelompok terakhir.”
Hasilnya dapat terlihat dengan tewasnya para gembong pimpinan teroris di Indonesia, seperti pembuat bom Dr Ashari, ahli propaganda Nurdin M Top, dan baru-baru ini kelompok Santoso.
Indonesia dalam melawan teroris juga menggunakan pendekatan halus yang dinamakan deradikalisasi atau program melawan radikalisasi yang dijalankan oleh Badan Nasional Penanganan Teroris (BNPT).
“Kita harus menggunakan narasi yang efektif untuk melawan propaganda mereka dan juga penting mencegah mereka untuk mendapatkan akses terhadap cyber technology (teknologi dunia maya),” demikian Wiranto. [A3]






