Breaking News
Polhukam

EE Mangindaan: Indonesia Harus Siapkan SDM Kompetitif

×

EE Mangindaan: Indonesia Harus Siapkan SDM Kompetitif

Sebarkan artikel ini

MANADO– Tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia ke depan semakin berat seperti ketersedian pangan, air dan energi. Untuk menghadapi persaingan yang semakin berat dan ketat itu, Indonesia perlu menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia yang kompetitif.

Dengan SDM Indonesia yang konpetitif, kata Wakil Ketua MPR RI, EE Mangindaan dalam sosialisasi empat pilar berbangsa dan bernegara dihadapan sekitar 300 lebih mahasiswa dan dosen Universitas Kristen Indonesia Tomohon (UKIT), Sulawesi Utara, Rabu (8/6).

Selain EE Mangindaan yang juga Gubernur Sulawesi Utara dua periode masa Orde Baru di Pendopo Ds Albertus Zakarias Runturambi Wenas tersebut, juga tampil sebagai nara sumber Marhany Victor Poly Pua dan Stevanus, anggota MPR RI dari unsur DPD RI daerah pemilihan propinsi paling utara Pulau Sulawesi ini.

Namun, kata EE Mangindaan yang juga wakil rakyat dari Daerah Pemilihan Sulawesi Utara ini, dalam menyiapkan SDM yang kompetitif tersebut terkendala karena masih lemahnya penghayatan agama, pengabaian terhadap kepentingan daerah dan timbulnya fanatisme daerah.

Sebenarnya, kata politisi senior Partai Demokrat tersebut, sudah ada otonomi daerah dalam amandemen UU NRI 1945. Tetapi masih timbul fanatisme daerah yang sempit seperti tampak dalam Pilkada. Ini artinya fanatisme kedaerahan masih tinggi,” kata dia.

Tantangan lainnya, lanjut tokoh masyarakat Sulawesi Utara ini, adalah kurang berkembangnya penghargaan pada kebhinnekaan, kurangnya keteladanan dalam sikap dan perilaku pemimpin, masih terjadinya diskriminasi dan masalah penegakan hukum.

Tantangan berikutnya adalah kertidakadilan karena kesenjangan sosial ekonomi yaitu semakin terlihatnya jurang antara yang kaya dengan miskin dan tingginya angka pengangguran di dalam negeri.

Selain tantangan tersebut, Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat ini juga mengungkapkan pengaruh globalisasi yang semakin luas dan persaingan antar negara semakin tajam serta kuatnya intensitas intervensi dari kekuatan global. Contohnya perencanaan pembangunan di Indonesia dipengaruhi suku bunga bank Federal AS, depresiasi Yuan.

“Dengan kondisi seperti itu bagaimana dengan Pancasila?” tanya Mangindaan tang sukses membangun Sulawesi Utara itu. Lantas dia menguraikan tentang Pancasila sejak pidato Bung Karno di sidang BPUPKI pada 1 juni 1945 hingga pengesahan UUD pada 18 Agustus 1945.

“Pancasila sudah final dan mengikat dan tidak bisa diutak-utik lagi. Ini yang sering belum dipahami sehingga MPR terus melakukan sosialisasi Empat Pilar. Kalau tidak hafal Pancasila, bagaimana mau mengimplementasikan?” kata EE Mangindaan.

Dielaskan bahwa Pancasila adalah satu rangkaian dari pidato Bung Karno 1 Juni hingga 18 Agustus. “Pemerintah menetapkan 1 Juni sebagai hari lahir Pancasila yang sebenarnya adalah pidato Bung Karno. Ide pertama Pancasila oleh Bung Karno. Tapi isi Pancasila adalah seperti tertera dalam UUD yang disahkan 18 Agustus. Jadi harus dimaknai sebagai satu kesatuan. Pancasila yang kita anut adalah Pancasila pada 18 Agustus, meski hari lahir Pancasila 1 juni,” demikian EE Mangindaan. (rendy)

Komentar