Breaking News
Polhukam

OSO Harapkan Dai Mampu Perkokoh Pemahaman 4 Pilar

×

OSO Harapkan Dai Mampu Perkokoh Pemahaman 4 Pilar

Sebarkan artikel ini

JAKARTA– Mubaligh atau ustadz yang tergabung dalam Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) diharapkan mampu memperkokoh pemahaman empat pilar berbangsa dan bernegara MPR RI yakni Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Bhinneka Tunggal Ika.

Hal tersebut dikatakan Wakil Ketua MPR RI, Oesman Sapta Odang saat menyampaikan kata sambutan pada silaturahmi Kebangsaan bersama Dai anggota Ikadi di komplek parlemen, Jakarta, kemarin.

“Para dai akan mampu memperkokoh empat pilar. Soalnya, para dai yang terhimpun dalam Ikadi dakwahnya adalah Islam yang rahmatan lil alamin,” kata laki-laki yang akrab dengan panggilan OSO ini dalam keterangan tertulis yang diterima, Jumat (22/4).

Senator dari Daerah Pemilihan (Dapil) Propinsi Kalimantan Barat ini meyakini anggota Ikadi adalah kaum muslim yang kesehariannya mengikuti jejak Rasulullah ingin mewujudkan kesejahteraan seluruh umat manusia.

OSO juga meyakini bahwa Ikadi mendukung penguatan NKRI sebab penguatan NKRI adalah syarat utama terciptanya harmoni sosial di antara sesama warga negara.

“Bila ada perbedaan, itu bukanlah sesuatu yang harus dihilangkan atau dimusuhi. Keberagaman justru dapat mendorong manusia untuk berlomba-lomba dalam berbuat kebajikan,” jelas OSO.

Sebelumnya, Ketua Umum Ikadi, Prof Dr Ahmad Satori Ismail menegaskan, jihad dan syahid bukan dengan mengangkat senjata melawan pemerintahan yang sah dan melakukan perusakan, apalagi teror yang membuat orang takut.

“Jadi, tidak ada hubungan antara jihad dan syahid dengan aksi- aksi terorisme yang terjadi, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Mereka tidak paham makna sebenarnya jihad dan syahid dan jelas tidak mengerti Islam,” kata Satori.

Warisan Islam, kata Satori, adalah kelembutan. Islam menyuruh umatnya untuk berdakwah secara hikmat, memberikan nasihat secara baik, bahkan berdialog juga harus dengan baik.

Menurut dia, berjihad bisa dengan berbagai macam cara, bisa menggunakan harta, tenaga, kekuatan, jiwa, dan lain-lain. Di era penjajahan, jihad memang dilakukan dengan segala daya, baik ekonomi, budaya, hingga mengangkat senjata.

“Ketika kita sudah tidak dijajah secara fisik, perjuangan kita bukan angkat senjata. Tapi dengan memerdekakan negeri ini dari berbagai pengaruh asing, kemiskinan, sehingga bangsa Indonesia menjadi negara yang adil dan makmur sesuai UUD 45,” demikian Ahmad Satori. (art)

Komentar