JAKARTA—Masyarakat Indonesia sangat toleran dan saling menghargai antara satu dengan yang lainnya. Hal itu yang sampai saat Indonesia masih berdiri kokoh dan menjadi contoh Negara lainnya.
Itu disampaikan Ketua MPR RI, Zulkifli Hasan ketika menjadi pembicara kunci pada dialog antar umat beragama untuk hidup dan perdamaian yang digelar Centre For Dialogue And Cooperation Among Civilation (CDCC) dan Sanidigio komunitas Italia di Gedung Nusantara V Komplek Parlemen, akhir pecan kemarin.
Dikatakan, Indonesia tidak sama dengan Uni Soviet. Sejak lama masyarakat Indonesia sangat toleran dan saling menghargai antara satu dengan yang lain. Pada 1908 misalnya, Indonesia memilih bahasa Melayu, sebagai bahasa nasional, padahal 60 persen rakyat Indonesia adalah masyarakat Jawa.
Pada acara itu hadir sejumlah tokoh agama seperti Prof. Dr. Syafiq A. Mughni (PP Muhammadiyah), Pdt. Dr Henriette Tabita Hutabarat Lebang (PGI), Mgr. Ignatius Suharyo (KWI), Maha Pandita Utama Suhadi Sendaja (Walubi),Nyoman udayana Sangging (PHDI) dan Uung Sendana (Matakin).
Saat terjadi perdebatan menyangkut dasar Negara, kata Zulkifli Hasan, Indonesia juga bisa melaluinya dengan baik. Ketika itu, umat Islam yang jumlahnya mayoritas, ternyata mau menerima dan mengakui masyarakat non muslim di Indonesia bagian timur. Sehingga Pancasila seperti yang disampaikan Soekarno pada 1 Juni akhirnya diterima sebagai dasar dan ideologi bangsa.
“Kita adalah negara yang sangat toleran dan bisa menghormati antara satu dengan yang lain. Semoga itu bisa menjadi contoh dan model bagi negara-negara lain”, kata Zulkifli. (art)






