JAKARTA – Wakil Ketum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) versi Muktamar Jakarta, Fernita Darwis mengingatkan pemerintah tidak melakukan intervensi dalam konflik internal Partai Persatuan Pembangunan (PPP) antara kubu Djan Faridz dan Romy karena bisa menimbulkan kegaduhan politik yang berkepanjangan.
“Saya minta pemerintah tidak mengintervensi PPP dengan mendukung kelompok Romy cs jik PPP Muktamar Jakarta menang di PTUN dengan tidak mengesahkan PPP Jakarta oleh Menkumham karena bisa menimbulkan kegaduhan politik,” ujar Fernita Darwis dalam diskusi bertajuk “Intervensi Pemerintah dalam Konflik Partai” di gedung DPR Jakarta, Selasa (24/2).
Fernita optimistis kepengurusan PPP versi Kongres Jakarta bakal memenangkan gugatan dualisme kepengurusan PPP yang di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) dan bisa mengikuti Pilkada.
Fernita Darwis berpendapat kegaduhan politik dewasa ini, sengaja dilakukan oleh pemerintah khususnya kisruh dalam PPP, karena PPP dianggap lawan politik pemerintah sekarang.
Fernita menyatakan, pihaknya merasa terganggu atas kehadiran Wapres Jusuf Kalla yang menutup Mukernas PPP I hasil Muktamar Surabaya (versi Rommahurmuzy) di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis (19/2).
“Sebagai seorang negarawan, Jusuf Kalla mestinya bersikap bijaksana dan mengakomodir semua kelompok dan menghindari masuk dalam konflik yang membuat suasana menjadi panas, tapi menyejukkan suasana,” katanya.
Ditegaskan Fernita, perselisihan panjang dalam tubuh PPP telah menggerogoti kehidupan partai. Tim islah yang dibentuk juga tidak menghasilkan sesuatu yang bisa selamatkan keutuhan partai. PPP Djan Faridz kata Fernita, sengaja tak mengundang pemerintah karena tak ingin mengotori pemerintah untuk masuk dalam konflik internal PPP.
“Kita tak ingin memanfaatkan pemerintah sehingga membuat posisi pemerintah menjadi serba salah. Pemerintah juga jangan menciptakan kegaduhan politik yang menjurus pada kegaduhan nasional, ” katanya.
Anak Durhaka
Dalam kesempatan sama, Wakil Sekjen DPP PAN Viva Yoga Mauladi menegaskan kongres PAN di Bali pekan depan akan akan berjalan mulus karena tidak ada “anak durhaka”. Hingga saat ini, hanya ada dua kandidat calon Ketum PAN yang akan bertarung yakni Zulkifli Hasan dan Hatta Rajasa.
“Di PAN tidak ada anak durhaka, yang ada adalah anak emas. Kompetisi antara Hatta Rajasa dan Zulkifli Hasan, adalah kompetisi persaudaraan, bukannya kompetisi saling membunuh,” katanya.
Kompetisi di PAN, kata Viva adalah bagian dari regenerasi kepengurusan partai yang sasarannya untuk membangun partai menjadi lebih besar. “PAN selama ini hanya berada di tengah, ke depan PAN ingin mengubah diri menjadi partai besar,” katanya. (chan)






