JAKARTA– Politisi senior PDI Perjuangan, Effendi MS Simbolon menilai, kegaduhan yang menyeret nama Ketua DPR RI, Setya Novanto, Muhammad Reza (pengusaha) dan Ma’ruf Syamsuddin bukanlah sinetron melainkan pertarungan para mafia.
Apalagi, kata anggota Komisi I DPR RI tersebut, Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), Sudirman Said (SS) tiba-tiba datang ke Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR RI, yang seharusnya itu tidak dilakukan karena sesama lembaga Negara serta Menkopolhukam, Luhut B Panjaitan yang menyatakan bahwa tidak ada perpanjangan kontrak Freeport. Ada apa?
Padahal, kata wakil rakyat dari Daerah Pemilihan (Dapil) Jakarta Barat dan Kepulauan Seribu tersebut, SS sebelumnya sudah melakukan perpanjangn kontrak, itu untuk siapa?
Jadi, kasus Freeport sebagai kelanjutan dari dipecatnya Ari Soemarno sebagai Dirut Pertamina oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). SS adalah kakak kandung Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Rini Soemarno yang notabene neolib-kapitalis.
“Karena itu, saya harap Pak Rizal Ramli terus komitmen melawan neolib itu dan jangan sampai menjadi penikmat kekuasaan,” tegas Effendi Simbolon pada diskusi “Membaca arah reshuffle kabinet jilid II” bersama anggota Fraksi PKB DPR RI, Daniel Djohan, Jubir Panziazimat Institute (PI), Lalu Hilman dan Ketua ProDem, Bob Randilawe, Kamis (19/11).
Menurut Effendi yang tiga periode menjadi anggota komisi Energi dan Sumber Daya Mineral itu, selama setahun menjabat SS telah menanam dua bom besar yaitu audit forensik Petral dan perpanjangan kontrak Freeport.
Untuk Freeport, kata Ketua Marga Simbolon sedunia itu, yang menjadi sasaran tembak bukan Setya Novanto, tapi Muhammad Reza. Setya Novanto hanya menjadi titik lontar, agar beritanya lebih menarik dan mendapat respon media yang besar.
“Kalau ada pelanggaran etik atau pidana yang dilakukan Setya Novanto, itu kan bukan urusannya SS. Bahwa dulu Ari Soemarno dan Muhammad Resa itu satu geng, yang kemudian pecah kongsi. Tapi, ada orang kuat lagi di belakang Rini dan Ari Soemarno itu.”
Lebih jauh dikatakan, kasus Ari dan Rini Soemarno dengan Muhammad Reza itu sebagai pertarungan luar biasa dan lebih kejam dari G 30 S PKI. Kalau Setya Novanto, dia orangnya memang lugu, sederhana, dan ngantuk-ngantuk sehingga kalau berbicara panjang bisa lupa.
“Jadi, orang seperti Setya Novanto inilah yang dijadikan titik lontar oleh Rini Soemarno. Maka Presiden Jokowi harus bisa mengelola kasus ini, kalau tidak bisa senjata makan tuan,” jelas anak buah Megawati Soekarnoputri di parlemen tersebut.
Menurut dia, SS tidak bisa seenaknya ke DPR RI, karena sesama lembaga negara tidak ada mekanismenya. Anehnya menurut Effendi, MKD DPR menerima dan menjadikan MKD sebagai panggung untuk media. “Tak bisa menteri SS ujug-ujug melaporkan anggota DPR RI. Kalau ini dibiarkan, maka akan sangat mengerikan, sehingga DPR RI harus melawan.”
Dengan demikian Effendi Simbolon menyarankan agar Presiden Jokowi tidak membiarkan ‘benalu-benalu’ itu menggerogoti pemerintahannya, sehingga ‘benalu-benalu’ itu harus dipangkas. Sebab, kalau tidak, Presiden Jokowi sendiri yang akan ‘mati’. “Seperti pohon kalau banyak benalunya pasti akan mati,” demikian Effendi Simbolon. (art)






