JAKARTA– Sekretrais Jenderal MPR RI, Ma’ruf Cahyono mengatakan, Gedung parlemen merupakan rumah kita, tempat para wakil rakyat mendengar, menampung dan memperjuangkam apa yang menjadi aspirasi rakyat yang kemudian dijadikan kebijakan.
“Urusan daerah disampaikan ke DPD, urusan politik disampaikan ke DPR, dan bila masalah konstitusi dan sosialisasi Empat Pilar bisa disampaikan ke MPR,” kata Ma’ruf saat menerima 26 mahasiswa dan dua pembimbing dari Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah di Ruang GBHN Gedung Nusantara V, Komplek Parlemen, Jakarta, Selasa (21/2).
Didampingi Kabag Pemberitaan dan Hubungan Antarlembaga (Hulembaga), Rharas Esthining Palupi, Ma’ruf mengatakan, lembaga ini mempunyai wewenang dan tugas. Wewenang diatur dalam UUD NRI Tahun 1945, sedang tugas diatur di UU No: 17/2014.
Dikatakan, tugas MPR seperti, memasyarakatkan Empat Pilar, pengkajian sistem tata negara dan melakukan penyerapan aspirasi masyarakat. Semua itu dilakukan demi membangun demokrasi Pancasila.
Menurut Ma’ruf, demokrasi harus terbangun melalui pendidikan politik konstitusi yang kuat. “Ini penting, sebab bila bicara konstitusi, itu membicarakan dimensi yang luas. Demokrasi harus berjalan dinamis seiring dinamika masyarakat. “Dengan pendidikan yang bagus akan memunculkan ide yang bagus.”
Kepada mahasiswa, Ma’ruf mengingatkan, dalam membicarakan konstitusi jangan hanya hafal tetapi juga harus mengerti. “Tidak mudah memahami ayat-ayat yang banyak bila tidak komprehensif,” kata dia.
Sebelumnya, salah satu pembimbing menyebutkan, kedatangan mahasiswa Jurusan PPKn ke MPR yang terlambat dari jadwal adalah melakukan study tour, mengenalkan mereka tentang lembaga negara. “Lembaga negara merupakan materi yang ada di kuliah. Terima kasih atas sambutan yang diberikan.”
Ma’ruf memaklumi delegasi itu datang terlambat sebab pada hari itu ada aksi massa. “Di gedung MPR dan DPR dinamika seperti itu selalu mewarnai,” ujarnya. Di gedung para wakil rakyat, lembaga MPR, DPR, dan DPD, biasa menampung aspirasi masyarakat dengan berbagai bentuk, sampai demo besar,” demikian Ma’ruf Cahyono. (art)





