Peristiwa

Dari Arafah, Fahri Minta Jokowi Beri Bantuan Besar Buat Korban Gempa Lombok

PARLEMENTARIA.COM – Masyarakat Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), kembali diguncang gempa. Belum hilang duka akibat guncangan gempa berturut-turut beberapa waktu lalu yang mengakibatkan sebanyak 469 korban meninggal dunia dan ribuan luka-luka, Minggu (19/8/2018) malam, gempa kerkekuatan 6,9 Skala Richter (SR) kembali mengguncang Lombok Timur, yang berdampak hingga ke Klungkung, Bali.

Menyikapi serentetan peristiwa gempa yang melanda Lombok tersebut, Wakil Ketua DPR RI Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Korkesra) Fahri Hamzah kembali memohon kepada Presiden Joko Widodo sebagai pimpinan negara untuk memutuskan cara membantu rakyat NTB, dan memberikan bantuan yang besar.

“Status apapun, yang penting ada bantuan besar. Hampir 1000 kali gempa dan ratusan ribu pengungsi apakah kurang? Dari Arofah aku memohon,” pinta Fahri Hamzah dalam unggahan di akun Twitter-nya, di sela-sela memimpin Tim Pengawas (Timwas) Haji bersama Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon di Padang Arafah, Arab Saudi, Senin (20/8/2018).

Fahri menambahkan bahwa negara mesti hadir dalam tindakan yang besar, mengingat negara merupakan perhimpunan seluruh sumber daya masyarakat. Bahkan, negara wujud dari kekokohan kolektif energi bangsa.

“Ayolah Pak Jokowi ambil keputusan cepat, kerahkan sumber daya negara untuk bantu NTB. Jika negara lamban, maka masyarakat bisa kehilangan kepercayaan pada negara. Negara wajib hadir, terutama dalam keadaan alam seperti memberi kita hukuman. Allah Maha Tahu apa yang terjadi,” tegasnya.

Menurut Fahri, kehadiran negara dirasakan melalui tindakan-tindakannya. Dengan menyeluruh tindakannya, karena kapasitasnya yang sangat besar, bukan sekedar menghimpun dana sosial dari satu-dua orang atau sekelompok orang, namun menghimpun dari seluruh sumber daya negara.

“Rakyat kita memang kuat. Masyarakat sipil bekerja menghimpun dana-dana sosial, dengan tindakan yang spesifik, tapi hanya pada spot yang terbatas. Sedang negara, bisa hadir melampauinya dengan kesigapan yang cepat dan tangkas. Ayolah Pak Jokowi, turunlah,” harap Fahri.

Politisi dari dapil NTB itu pun menambahkan, tindakan negara terwujud melalui dua alas, yakni melalui regulasi, dan kedua melalui budget. Melalui regulasi, status bencana NTB perlu ditinjau ulang, dan kalau bisa ditingkatkan menjadi bencana nasional, agar negara terlibat penuh melalui struktur raksasanya dalam penyelesaian bencana Lombok.

“Struktur yang raksasa misalnya, dengan membentuk badan rehabilitasi, sehingga akan mempercepat pemulihan NTB, memulihkan pariwisata Lombok, juga mengembalikan keceriaan warga. Jangan biarkan mereka terlalu lama dalam duka, dan terlalu lama dalam tenda,” imbuhnya.

Apalagi, kata Fahri sampai saat ini, pihaknya belum mendengar ada ‘kelembagaan nasional’ untuk penanganan gempa NTB. Jakarta masih merespon bencana Lombok dengan birokrasi normal. Sementara pemerintah daerah diminta berdiri kokoh menanggapi gempa, meski pun mereka juga sebenarnya adalah korban.

“Aparat pemda saya saksikan sendiri kebingungan dengan skala bencana ini. Mereka juga korban, tapi kita meminta mereka untuk mengurus diri mereka mandiri. Sungguh tindakan yang tidak bijak,” cetusnya.

Memang, masih menurut Fahri, melalui budgeting negara sudah menjanjikan Rp4 triliun untuk Lombok saja. Ini yang mesti dipantau bersama, sehingga anggaran tersebut mesti dirasakan kehadirannya. Namun tentunya, birokrasi pembiayaannya mesti ringkas.

“Keringkasan itulah yang kita baca melalui penguatan kelembagaan. Dengan regulasi dan budgeting yang tanggap bencana itulah maka harapan pemulihan Lombok dapat kita susun dalam time frame yang jelas. Dengan demikian kita bisa mengestimasi waktu kerja kita. Ada jadwal dan ada kepastian. Jangan seperti sekarang negara nampak gamang,” harapnya.

Apalagi, tambah Fahri, bencana ini dekat dengan momentum Pemilihan Presiden dan Pemilihan Legislatif 2019. Karenanya perlu mempercepat pemulihannya, agar bencana ini tidak tersandera oleh momentum politik seperti dilupakan atau dimanfaatkan.

“Dengan ikhtiar itulah kita bekerja, dan memohon kepada Allah, bahwa kita telah berusaha sungguh-sungguh agar Allah menurunkan pertolongan-Nya atas musibah dan derita yang kita alami bertubi-tubi. Kita disadarkan bahwa setiap saat, kita ingin ‘Tangan Tuhan’ bekerja dalam pemulihan ini,” pungkas Fahri. (chan)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top