Polhukam

Pangi Syarwi Chaniago: Elektabilitas Jokowi Belum Aman

PARLEMENTARIA.COM – Pengamat politik Pangi Syarwi Chaniago merasa optimis, dalam pemilihan presiden pada Pemilu 2019 tidak  mungkin hanya ada satu pasang calon atau calon presiden (capres) tunggal. Bahkan elektabilitas Joko Widodo (Jokowi) dinilainya belum pada posisi yang aman.

Ketika berbicara dalam Dialektika Demokrasi bertema “Lima Parpol Diluar Pengusung Jokowi Membentuk Dua Poros Baru?”, di Media Center DPR, Kamis (22/3), Pangi memprediksi, setidaknya akan ada dua pasang calon presiden dan wakil presiden yang akan tampil.

Alasan Ipang, begitu dia akrab disapa, setelah melihat sikap dan hubungan Partai Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Dari jumlah kursi DPR, maka dua partai tersebut sudah bisa mengusung pasangan capres dan cawapres sendiri.

“Jumlah kursi Gerindra dan PKS di DPR sekarang ini sudah bisa mengusung calon sendiri. Jadi tidak mungkin calon tunggal,” kata alumni Universitas Andalas Padang itu.

Dengan keyakinannya itu, maka tidak mungkin Prabowo akan bergabung dengan Jokowi dalam pemilihan presiden pada Pemilu 2019 seperti diisukan beberapa waktu belakangan ini.

“Jadi gak mungkin Prabowo bergabung dengan Jokowi. Head to head akan terulang kembali antara Jokowi melawan Prabowo. Pemilih potensi Prabowo sangat potensial untuk bisa melawan Jokowi,” ujar Ipang.

Bahkan dia menilai elektabilitas Jokowi berdasarkan survei-survei tentang calon presiden yang dilakukan sejumlah lembaga survei menunjukkan bahw pada posisi Jokowi belum aman. “Elektabilitas yang aman itu di atas 60 persen. Saya lihat survei itu maka posisi Jokowi belum aman,” jelasnya.

Terkait calon wakil presiden yang akan berpasangan dengan Jokowi,  Direktur Eksekutif Voxpol Center ini memprediksi bahwa Jokowi atau partai penguasa akan mengambil cawapres profesional untuk menyelamatkan PDIP dalam kepentingan jangka panjang.

Apakah Jokowi akan kembali memenangkan Pilpres 2019, Ipang menyerahkan sepenuhnya kepada yang rakyat yang memilih. Namun dari program pemerintahan sekarang yang dipimpin Jokowi sekarang ini, Ipang melihat program pro rakyat terganggu dengan masalah subsidi, utang yang terus meningkat dan lainnya.

“Hidup makin susah di zaman Jokowi, tambah melarat. Pajak makin naik, dan Narkoba mulai marak. Sementara rakyat mengingankan Jokowi di satu sisi yakni terkait infrastruktur harus tetap dilanjutkan dan jangan sampai putus di tengah jalan,” ujar Ipang. (chan)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top