Polhukam

Zulhas Berang, Bahayakan Negara, Tembak Mati Bandar dan Pemasok Narkoba

PARLEMENTARIA.COM– Ketua MPR RI, Zulkifli Hasan berang. Dia minta bandar serta pemasok narkotika dan obat-obat terlarang (narkoba) ke Indonesia ditembak. Selain itu, pemerintah Indonesia juga perlu memutus hubungan bilateral dengan negara yang mengirim barang haram itu ke Indonesia.

Pernyataan pedas itu dilontarkan Zulkifli Hasan usai memberikan Sosialisasi Empat Pilar Berbangsa dan Bernegara dan diskusi dengan Badan Eksekutif Mahasiswa se-Indonesia di Gedung Nusantara V Komplek Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (1/3).

Itu disampaikan Ketua Umum DPP Partai Amanat Nasional (PAN) tersebut berkaitan dengan maraknya usaha menyeludupkan narkoba dari luar negeri ke Indonesia melalui laut belakangan ini.

“Ini sudah mengancam negara. Berton-ton narkoba masuk ke Indonesia melalui laut. Karena itu, saya minta aparat keamanan menindak tegas pelaku. Bila perlu tembak mati pelakunya,” kata wakil rakyat dari Dapil Lampung tersebut.

Dikatakan Zulkifli Hasan, kalau bandar narkoba ditembak mati, paling tidak hal ini membuat mereka yang ingin memasukkan narkoba ke Indonesia berpikir ulang untuk melakukan tindakan kejahatannya itu.

“Setelah Presiden Philipina, Rodrigo Duterte melakukan tindakan tegas terhadap para gembong barang narkoba. Kini, barang haram itu berusaha dimasukkan ke Indonesia. Ini sangat berbahaya dan harus ditumpas,” kata dia.

Ketua MPR RI yang akrab disa[a Zulhas itu mengatakan, saat ini Indonesia benar-benar darurat narkoba. Bahkan, kabarnya akan akan masuk lagi sekitar 500 ton hingga 600 ton secara bertahap.

“Dari satu ton, dua ton hingga lima ton. Itu bisa menghancurkan ketahanan nasional negara kita,” jelas Zulhas mengutip ucapan mantan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Budi Waseso.

Penerimanya, sambung dia, pasti banyak. Bayangkan ada 500 ton mau dimasukan ke Indonesia melalui laut termasuk melalui laut sekitar Timur Leste. “Sekali selundup tiga ton, lima ton. Itu kan pasti kerjama bandar dengan negaranta, Ngak mungkinlah itu hanya kerjaan bandar semata.”

Disinggung pelantikan Kepala BNN yang baru Irjen Pol. Heru Winarko menggantikan Komjen Pol. Budi Waseso (Buwas), Zulhas mengucapakan selamat, dan mengaku sangat tahu betul integritas yang dimiliki Kepala BNN yang baru itu. “Irjen (Pol) Heru memiliki kompetensi dan memiliki,” kata dia.

Zulhas punya cara unik saat bertemu Pimpinan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dari beberapa kampus PTN dan PTS di Indonesia di Gedung Parlemen. Alih-alih menyampaikan materi kebangsaan, Zulhas justru memilih mendengarkan aspirasi, orasi, curhat dan bahkan kritik pimpinan BEM terhadap kondisi bangsa

“MPR ini rumah rakyat, rumah besar untuk seluruh rakyat Indonesia. Di rumah rakyat ini, saya justru ingin dengarkan saran, kritik, masukan dan mungkin curhat rekan rekan tentang masalah kebangsaan,” kata Zulhas.

Kesempatan pertama diberikan pada Presiden Mahasiswa BEM KM UGM Oded Kresna. Ia menyampaikan pentingnya Pancasila sebagai Ideologi kolektif, bukan ideologi sekelompok orang semata “Pancasila jangan diklaim untuk sekelompok orang, tapi ideologi kita semua. Mulai dari Nelayan, Petani kita semua adalah Pancasila.”

Kesempatan selanjutnya diberikan kepada perwakilan Dewan Mahasiswa UIN Jakarta Ahmad Nabil. Ia tegaskan pentingnya kemandirian pangan. “Negeri kaya ini harusnya berdiri di atas kakinya sendiri. Soal pangan jangan lagi ada impor beras ketika petani kita justru sedang panen. Sebagai Ketua MPR, kami minta Pak Zul suarakan ini pada pemerintah,”

Perwakilan BEM UI, Idmand Perdina menegaskan penolakannya terhadap UU MD3 yang membuat DPR menjadi anti kritik. “Sebagai wakil rakyat, DPR seharusnya terbuka dan mau memperbaiki diri dengan kritik,” tegas Idmand

Zulhasan menyampaikan terima kasih untuk semua masukan dan siap berlapang dada terhadap kritik dari mahasiswa. “Melihat kritik, analisa dan semangat temen temen mahasiswa saya optimis masa depan Indonesia bisa jauh lebih baik. Merdeka, Hidup Mahasiswa!,” tutupnya. (art)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top