Pengawasan

Roem Kono Sayangkan Produksi Kakao Petani Merosot Akibat Hama

PARLEMENTARIA.COM– Komisi IV DPR RI yang membidangi pertanian menyayangkan masih tingginya angka impor komoditas kakao. Padahal, Indonesia sebagai negara agraris memiliki lahan yang luas untuk bisa menanam komoditi ini.

“Saya menyangkan masih tingginya angka impor kakao akibat produksi kakao dari perkebunan petani merosot,” kata Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Roem Kono ketika memimpin Kunjungan Kerja (Kunker) ke meninjau Program Intensifikasi Perkebunan Kakao di Desa Sibowi, Kecamatan Tanambulava, Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah, awal pekan ini.

“Luas lahan perkebunan kakao yang kita miliki jutaan hektar. Harusnya impor komoditi kakao tidak perlu terjadi. Kita bahkan seharusnya yakin bisa wujudkan swasembada kakao,” ungkap politisi senior Partai Golkar tersebut.

Wakil rakyat dari Dapil Gorontalo ini menengarai, terjadinya penurunan angka produksi kakao petani diakibatkan serangan hama PBK. Karena itu, ini harus menjadi perhatian serius Pemerintah Daerah (Pemda) serta berbagai pihak terkait untuk segera menanggulanginya.

“Bupati, Kadis Perkebunan, Perwakilan dari Pupuk Kaltim dan juga BUMN Sang Hyang Seri yang menyediakan bibit unggul harus sinergi untuk memenuhi kebutuhan para petani sehingga tercapai peningkatan produksi kakao melalui program intensifikasi,” pinta Roem.

Bupati Kabupaten Sigi, Mohammad Irwan yang ikut mendampingi kunker tersebut menjelaskan, intensifikasi kakao oleh Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Harapan Jaya di Kabupaten Sigi merupakan salah satu yang menjadi target lokasi Program Intensifikasi Kakao di Provinsi Sulawesi Tengah.

Soalnya, perkebunan Gapoktan Harapan Jaya terletak di dekat Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kota Palu yang menjadi lokasi industri pengolahan kakao. Sehingga tidak jauh buat petani membawa produksi perkebunan mereka ke tempat pengolahan hasil perkebunan mereka.

Sementara Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan) Bambang yang mendampingi Tim Komisi IV DPR memaparkan, dalam program intensifikasi, Dinas Perkebunan Provinsi Sulawesi Tengah memilih para petani kakao yang memiliki lahan dengan umur tanaman yang masih relatif muda dan produktif. “Petani diberikan bantuan pupuk, obat-obatan dan pendampingan dalam melaksanakan intensifikasi.”

Program intensifikasi yang dimulai 2015 punya target peningkatan produktivitas kakao Provinsi Sulawes Tengah dari rata-rata 1 ton/hektar menjadi 1,5 – 2 ton/hektar, mulai 2016. (art)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top