PARLEMENTARIA.COM– Ideologi bangsa yang berpihak kepada eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) harus tercermin dalam setiap program siaran TV di tanah air.
Karena itu, ungkap anggota Komisi I DPR RI, Bachtiar Aly dari Daerah Pemilihan (Dapil) Provinsi Aceh Darussalam, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) harus memantau mutu siaran stasiun televisi yang ada di tanah air.
Hal tersebut dikatakan anggota Komisi I DPR RI, Bachtiar Aly dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan KPI di Ruang Rapat Komisi I DPR RI Gedung Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (30/1).
“Televisi dan radio yang ada di Indonesia jangan sekadar menyiarkan dan mencerminkan ideologi para pemilik perusahaan TV yang dapat terlihat dari konten programnya, tetapi harus ada idiologi yang berpihak kepada NKRI yakni mengembangkan nilai Pancasila. KPI perlu menyampaikannya dengan bahasa lain ke sejumlah stasuin penyiaran,” kata Bachtiar Ali.
Dikatakan Bachtiar Aly yang juga pakar Komunikasi Politik tersebut, KPI tak boleh lepas memantau kultur perusahaan stasiun TV di Indonesia. Bisa saja para insan di balik tayangan TV itu menyatakan setia pada ideologi bangsa, tapi yang dilakukan dalam program TV-nya berbeda.
Karena itu, kata dia, KPI harus mengawasi corporate culture lembaga dan perusahaan penyiaran. “Bisa saja berkedok begini, tapi yang dilakukan lain. Apakah corporate culture ini identik dengan pemilik TV. Dia punya ideologi tertentu lalu pemirsa di-brainwash,” ujar mantan anggoat Dewan Pers ini.
Bachtiar berharap, KPI memiliki kemampuan memantau ideologi siaran TV. Bila kelak ada unsur destruktif yang merusak kehidupan dan ideologi bangsa, Komisi I DPR harus turun mengawasi hal ini.
Apalagi, lanjut Bachtiar Aly, memasuki tahun politik, siaran TV cenderung subjektif. “Mungkin saja KPI ditekan mafia-mafia yang ingin mencederai siaran-siaran TV. Di sini wibawa KPI terlihat. KPI harus punya integritas.”
Peran KPI selama ini, jelas dia, memang tersamar dan diam-diam memberi arahan dan teguran di belakang siarang TV. Yang penting lagi, KPI tidak ikut larut bersama para mafia siaran TV yang merusak bangsa.
“Bila KPI larut bersama mafia, berarti tidak punya tanggung jawab terhadap masa depan bangsa ini. Kami menaruh harapan besar kepada KPI, karena secara diam-diam memberi arahan mau ke mana bangsa akan dibawa. Jangan menganggap pekerjaan ini biasa,” demikian Bachtiar Aly. (art)






