PARLEMENTARIA.COM – Ketua MPR RI Zulkifli Hasan mengatakan, Bung Karno telah meletakkan dasar dasar kehidupan berbangsa bernegara yang kokoh dan kuat. Tugas generasi saat ini adalah implementasi Pancasila dalam kehidupan sehari hari.
“Pancasila jangan berhenti hanya jadi slogan tapi harus menjadi perilaku sehari hari. Ini tugas generasi menjaga Pancasila dan nilai nilai luhur ke Indonesiaan kita,” tegas Zulkifli di acara Haul Bung Karno ke-47 dan peluncuran buku “Bung Karno, Islam, dan Pancasila” di Gedung Nusantara IV, Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (21/6).
Zulkifli Hasan juga menjelaskan bahwa Pancasila juga harus ditanamkan lagi dari sekarang. Menurutnya, 71 tahun mendatang penduduk Indonesia semakin padat bahkan mencapai 500 juta lebih penduduk.
“Pancasila ini harus ditanamkan kembali jangan sampai ada gap dan kemiskinan lagi di Indonesia. Karena jika sudah tidak ada lagi Pancasila dan pemerataan maka bangsa ini akan mati,” jelasnya.
Ia berharap perdebatan Pancasila masuk dalam wilayah substansi yakni bagaimana mengurangi kemiskinan dan mewujudkan keadilan sosial.
“Sekarang kita bicara implementasi kewajiban kita meletakkan hal itu. Saya berpendapat ada di bukunya Pak Basarah ditulis pada sila 5 prinsipnya tidak boleh ada kemiskinan di situ. Itulah yang harusnya dipertengkarkan bukan lagi soal suku dan agama, tapi lebih penting kemiskinan,” ujarnya.
Ketua Fraksi PDI Perjuangan MPR RI Ahmad Basarah selaku penulis buka menyatakan bahwa Islam dan nasionalisme atau golongan Islam dan golongan nasionalisme adalah ibarat dua rel kereta api.
Keduanya harus berdampingan dengan kokoh dan seimbang. Jika salah satu relnya patah maka bukan hanya kereta api yang berada di atasnya tidak dapat mengantarkan penumpangnya sampai ke tujuan. Akibat fatalnya adalah kereta api itu akan terjungkal dan mencelakakan para penumpang yang ada di dalamnya,” kata Basarah.
“Kalau Islam dan nasionalisme dipisahkan atau diadu-domba maka hancurlah Indonesia,” kata Ahmad Basarah dalam sambutan yang diberi judul “Pledoi untuk Bung Karno dan Pemikiran-Pemikirannya”.
Menurut Ahmad Basarah, Pancasila yang di dalamnya mengandung unsur-unsur keislaman dan nasionalisme adalah laksana dua rel kereta api. “Jika keduanya berdampingan dengan kokoh akan dapat mengantarkan negara kesatuan Republik Indonesia dengan segenap rakyatnya yang majemuk, baik dari aspek agama, suku, etnis dan antar-golongan akan sampai pada tujuan bernegaranya. Yaitu, tatanan masyarakat yang subur makmur dan adil serta bahagia lahir bathin (Baldatun Thayyibatum Wa Rabbun Ghafur),” paparnya.
Basarah menambahkan bangsa Indonesia patut bersyukur karena telah diwariskan oleh para pendiri negara sebuah dasar dan ideologi negara yang kualitasnya telah melampaui ideologi bangsa-bangsa lain di dunia.
“Sebagai sebuah bangsa yang besar kita patut bersyukur karena telah diwariskan oleh para pendiri negara sebuah dasar dan ideologi negara yang kualitasnya telah melampaui ideologi bangsa-bangsa lain di dunia. Pancasila lebih baik dari Manifesto Komunis Karen apula sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Pancasila lebih baik dari paham liberalisme/kapitalisme karena punya sila keadilan sosial dan Pancasila juga lebih baik dari sistem khilafah karena punya sila persatuan Indonesia,” jelasnya.
Buku “Bung Karno, Islam, dan Pancasila” materi substansinya sebagian besar diambil dari disertasi doktor Ahmad Basarah pada Fakultas Hukum Universitas Diponegoro Semarang dengan judul disertasi “Eksistensi Pancasila Sebagai Tolok Ukur dalam Pengujian UU terhadap UUD 1945 di Mahkamah Konstitusi: Kajian Perspektif Filsafat Hukum dan Ketatanegaraan” yang dipertahankan dalam sidang terbuka ujian doctoral pada 10 Desember 2016.
“Semoga hadirnya buku Bung Karno, Islam, dan Pancasila akan memberikan manfaat dan dapat menjadi jembatan pemikiran antara pandangan Golongan Islam dan Golongan Nasionalis dalam menghadapi dan menyikapi perubahan sosial yang sedang terjadi dalam masyarakat Indonesia saat ini,” harap Ahmad Basarah.
Tampak hadir dalam acara tersebut Presiden Ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri, Ketua Mahkamah Konstitusi Prof Dr Arief Hidayat, mantan Ketua MK Mahfud MD, Menkumham Yasonna Laoly, Mendagri Tjahjo Kumolo, pimpinan fraksi di MPR RI. (esa)






