PARLEMENTARIA.COM – Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi Partai Golkar Muhammad Sarmuji memberikan apresiasi terhadap proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2018 yang ditargetkan pemerintah. Namun untuk mencapai target tersebut menurut dia, diperlukan kerja keras dari pemerintah yang membutuhkan sinergi dari berbagai pihak.
“Postur APBN 2018 diharapkan lebih fokus pada pembangunan yang menciptakan multiplier effect bagi perekonomian nasional dan kesejahteraan rakyat. Walaupun ada optimisme dalam pemulihan perekonomain global, tetapi masih terdapat tantangan perekonomian domestik yaitu masalah kemiskinan dan kesenjangan,” ujar Sarmuji dalam Rapat Paripurna, Selasa (30/05/2017).
Dikatakannya bahwa Golkar mendorong agar pemerintah dapat bekerja lebih keras dalam mencapai target pertumbuhan ekonomi yang diproyeksikan sekitar 5,4 hingga 6,1 %. “Fraksi Golkar mendorong pemerintah untuk melakukan terobosan dalam menciptakan pertumbuhan berkualitas yang dapat mengentaskan kemiskinan dan mengurangi kesenjangan,” ujar Sarmuji.
“Setelah mencermati KEM-PPKF 2018. Kami berpandangan bahwa dari sisi indikator ekonomi makro, Fraksi Golkar mengapresiasi pemerintah menetapkan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2018 pada kisaran 5,4 sampai 6,1 %. Kami menilai angka tersebut yang mendekati batas atas adalah target yang membutuhakn kerja keras,” sambung Sarmuji.
Tingginya target pertumbuhan ekonomi tersebut, Pemerintah pun diminta untuk mampu memaksimalkan sektor industri pengolahan. Hal ini diyakini dapat memberikan kontribusi yang besar bagi product domestic bruto (PDB).
“Oleh karenanya, pemerintah perlu menjelaskan bagaimana agar target ekonomi itu tercapai. Kami menyarankan agar pemerintah lebih fokus pada pertumbuhan di sektor pengolahan. Karena selain memiliki kontribusi besar pada PDB, sektor industri pengolahan juga memiliki nilai tambah bagi perekonomian khususnya penciptaan lapangan kerja,” jelas Sarmuji.
Sebelumnya, pemerintah telah menetapkan kerangka makro untuk APBN 2018. Adapun asumsi ekonomi makro pada RAPBN 2018 yang disampaikan pada DPR yakni pertumbuhan ekonomi sebesar 5.4%-6.1% , laju inflasi pada kisaran 3.5% hingga 1%, Nilai Tukar Rupiah sebesar Rp13.500-Rp13.800 per USD, tingkat suku bunga Surat Perbendaharaan Negara (SPN) 3 bulan: 4.8%-5.6%, Asumsi Harga Minyak sebesar USD45 – USD60 per barel, Lifting Minyak pada kisaran 771-815 ribu barel per hari serta Lifting Gas pada kisaran 1.194-1.235 ribu barel setara minyak per hari. (esa)






