PARLEMENTARIA.COM – Pemikiran dan perjuangan Tan Malaka akan dibedah dalam diskusi publik, di Operation Room Gedung Nusantara, Komplek Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (27/03/2017) besok.
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari pihK panitia, Sabtu (25/03/2017), nara sumber yang akan berbicara dalam diskusi tersebut Wakil Ketua DPR Fadli Zon dan sejarah/peneliti Belanda Dr. Harry A. Poeze.
Kemudian Hengky Navaron Arsil Dt. Tan Malaka yang merupakan keturunan ketujuh Raja Adat Kelarasan Bungo Setangkai dan Dr. Mohammad Iskandar yang juga seorang sejarawan dengan moderator Muhammad Ti Andhika.
Nama asli Tan Malaka adalah Sutan Ibrahim, sedangkan Tan Malaka adalah nama semi bangsawan yang ia dapatkan dari garis turunan ibu. Nama lengkapnya adalah Sutan Ibrahim Gelar Datuk Sutan Malaka.
lahir di Nagari Pandam Gadang, Suliki, Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, 2 Juni 1897 dan meninggal di Desa Selopanggung, Kediri, Jawa Timur, 21 Februari 1949 (umur 51 tahun). Ayahnya bernama HM. Rasad, seorang karyawan pertanian dan ibunya Rangkayo Sinah, putri orang yang disegani di desa.
Tan Malaka adalah seorang pembela kemerdekaan Indonesia yang berpihak pada golongan sayap kiri bersama dengan tokoh-tokoh Partai Komunis Indonesia, pendiri Partai Murba dan merupakan salah satu Pahlawan Nasional Indonesia.
Semasa kecilnya, Tan Malaka senang mempelajari ilmu agama dan berlatih pencak silat.Pada tahun 1908, ia didaftarkan ke Kweekschool (sekolah guru negara) di Fort de Kock. Menurut GH Horensma, salah satu guru di sekolahnya itu, Tan Malaka adalah murid yang cerdas, meskipun kadang-kadang tidak patuh.
Ia juga adalah seorang pemain sepak bola yang bertalenta. Setelah lulus dari sekolah itu pada tahun 1913, ia ditawari gelar datuk dan seorang gadis untuk menjadi tunangannya. Namun, ia hanya menerima gelar datuk. Gelar tersebut diterimanya dalam sebuah upacara tradisional pada tahun 1913. (chan)






