Breaking News
Polhukam

DPD RI Sesalkan sikap Penegak Hukum dalam Menangani Kecurangan Pilkada

×

DPD RI Sesalkan sikap Penegak Hukum dalam Menangani Kecurangan Pilkada

Sebarkan artikel ini

PARLEMENTARIA.COM – Wakil Ketua DPD RI Farouk Muhammad didampingi Ketua Komite I Ahmad Muqowam bersama anggota DPD RI Provinsi DKI Fahira Idris dan anggota DPD RI Provinsi Jawa Barat Eni Sumarni melakukan pertemuan dengan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), jumat (10/02/2017) di Jakarta.

Dalam kesempatan itu Tim DPD RI diterima oleh Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Muhammad dan  Pimpinan berserta Staf Bawaslu serta Ketua Bawaslu DKI Mimah Susanti dan staf Bawaslu DKI.

“Pertemuan Ini dilakukan untuk mendengarkan info tentang langkah yang telah diambil jajaran Bawaslu dan meminta klarifikasi atas permasalahan-permasalahan yang ditemukan DPD baik secara langsung maupun melalu media termasuk media sosial,” kata Farouk dalam rilisnya, Minggu (12/03/2017)

Dijelaskan, permasalahan pilkada tanggal 15 Februari 2017 tercatat mulai dari penggunaan hak pilih warga yang berhak tapi menghadapi kendala atau tidak mampu datang ke TPS, Ketersediaan surat suara termasuk yang sudah tercoblos, pengerahan pemilih secara terancang sampai pada permainan politik uang termasuk sembako dan voucer, fasilitas ziarah dan umroh dan lain.

“Kami menyesalkan sikap penegak hukum (dalam lingkungan Sentra Gakum) yang tidak meneruskan perkara ke tingkat penuntutan/pengadilan terhadap hampir semua kasus money politik dengan alasan tidak memenuhi unsur,” Jelas Farouk.

Dia menyesalkan respon aparat penegak hukum yang kaku sehingga sebagian besar kasus-kasus dugaan pelanggaran pidana dihentikan prosesnya tanpa membawanya ke meja hijau untuk diperiksa secara obyektif dan adil.

Guru besar PTIK inimeminta perhatian Bawaslu untuk menghadapi setiap informasi penyimpangan yang diberitakan di  media massa ataupun media sosial, baik yang ril/faktual ataupun perseptual dengan responsif, sensivitas, transparansi dan bertanggungjawab.

“Karena dalam masyarakat dengan tingkat distrust yang relatif tinggi, jika informasi demikian  tidak direspon dengan baik melalui formal  social control mechanism  maka dapat mengundang berkerjanya mesin informal yang destruktif.” Pungkasnya. (chan)

Komentar