JAKARTA– Kwalitas beras Badan Logistik (Bulog) yang tersimpan di gudang-gudang lembaga tersebut itu di berbagai daerah rendah. Itu disebabkan lembaga yang bertugas menyediakan kebutuhan pokok tersebut tidak mampu membeli beras berkwalitas lebih baik ketika musim panen.
Akibatnya, kata anggota Komisi VI DPR RI tersebut, wakil rakyat dari Partai politisi dari Partai Golkar, Endang Srikarti Handayani, ketika inpeksi mendadak (sidak) ke gudang Bulog, sering ditemukan, beras yang sudah menghitam, bahkan berkutu.
Berita yang diterima Parlementaria.com, Rabu (11/1), wanita kelahiran Boyolali, Jawa Tengah menyebutkan bahwa Perum Bulog tidak mampu membeli beras kwalitas yang lebih baik.
Endang yang mengaku baru saja melakukan sidak ke Boyolali, miris melihat kualitas beras yang begitu rendah. Dia banyak mengambil sampel beras dari Bulog. Ada yang butirannya sudah pecah, ada pula yang sudah berubah warna.
Bulog membeli gabah petani, sambung Endang, biasanya hanya Rp3.000-Rp4.000 per kg. Sementara tengkulak membelinya dari petani bisa Rp4.100-Rp4.300 secara tunai.
Bulog kalah bersaing dengan para tengkulak. Soalnya, tengkulak memberi harga jauh lebih tinggi daripada harga yang dipatok Bulog. Akhirnya, Bulog hanya kebagian gabah dan beras kualitas rendah.
Hanya saja, lanjut dia, kini Bulog sedikit terbantu dengan adangya Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sehingga keberadaan BUMDes itu cukup membantu petani dan masyarakat miskin di pedesaan.
Dikatakannya, dengan kwalitas Beras yang demikian, masyarakat sudah tidak berharap lagi beras murah dari Bulog. “Masyarakat kini berharap dari BUMDes yang memberi layanan kebutuhan masyarakat dengan baik, termasuk beras dengan kualitas baik,” demikian Endang Srikarti Handayani. {art)






