JAKARTA – Dualisme kepemimpinan di tubuh Partai Golongan Karya (Golkar) yang terjadi 1,5 tahun terakhir membuat partai berlambang Pohon Beringin tersebut dijauhi masyarakat. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pilkada) serentak 9 Desember tahun lalu.
“Hasil pilkada tersebut tidak mencerminkan Partai Golkar yang sebenarnya,” kata bakal calon Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartarto dalam diskusi “Babak Baru Parpol di Indonesia”, Senin (18/4).
Karena itu Airlangga berharap, Musyawarah Luar Biasa (Munaslub) Partai Golkar yang digelar di Bali, pertengahan Mei nanti bisa menyatukan dualisme yang ada selama ini sehingga membuat partai Golkar kembali merebut kemenangan pada Pemilu 2019.
“Tantangan Golkar ke depan makin besar setelah 1,5 tahun terjadi dualisme kepemimpinan. Tahun 2019 menjadi pertaruhan bagi Partai Gokar,” kata Airlangga.
Jika dirinya dipercaya menjadi ketua umum, Airlangga berjanji berkomunikasi dan menampung aspirasi masyarakat. Dia juga akan memberikan kesempatan masyarakat aktif berpartisipasi.
“Depapolitiasi terjadi karena komunikasi tak jalan. Golkar harus membuka komunikasi dan mampu menampung aspirasi masyarakat,” janji Airlangga.
Airlangga juga berjanji melakukan sistem kaderisasi dengan baik melalui pembantasan periodeisasi kader Golkar yang duduk di legislatif. “Sekarang kan bebas saja seorang kader Golkar duduk di DPR tanpa dibatasi berapa periode bisa menjadi anggota DPR. Ini akan menghambat proses kaderisasi di Partai Golkar,” kata Airlangga.
Menurut Airlangga, sudah saatnya Partai Golkar serius mempersiapkan kader-kader muda yang tangguh dengan menggagas dimulainya sekolah kader Partai Golkar, yang merekrut generasi muda Indonesia. Sekolah tersebut juga dibarengi dengan pemantauan pengkaderan serta aktifitas mereka di lingkungan dan masyarakat. Sehingga untuk kedepannya, parpol-parpol tidak lagi begitu menggantungkan perolehan suara dengan merekrut artis.
“Dengan kita merekrut generasi muda, dan sungguh-sungguh mengkader mereka melalui sekolah kader, serta memadukannya dengan para senior yang merupakan aset luar biasa Golkar, maka saya berharap partai Golkar sebagai partai yang progresif, aspiratif dan kuat. Ini yang saya tawarkan sebagai calon Ketua Umum Golkar,” kata dia.
Pengamat politik Ray Rangkuti yang ikut menjadi pembicara dalam diskusi tersebut sangat setuju dengan gagasan Airlangga soal membatasi periode kader Golkar duduk di legislatif. “Kalau di eksekutif (presiden –red) kan sudah dibatasi hanya 2 periode. Tidak ada salahnya yang duduk di DPR dibatasi. Seperti setelah 3 periode tidak boleh menjadi caleg lagi. Kalau dibebaskan seperti selama ini akan menghambat regenerasi,” demikian Ray Rangkuty. (art)






