Breaking News
Polhukam

Mahyudin Bangga Jadi Bangsa Indonesia

×

Mahyudin Bangga Jadi Bangsa Indonesia

Sebarkan artikel ini

mahyudinJAKARTA– Wakil Ketua MPR RI, Mahyudin dihadapan ratusan mahasiswa Universitas Borobudur Jakarta mengaku bangga menjadi bangsa Indonesia karena negara yang terdiri dari berbagai suku, bahasa dan agama bisa bersatu.
“Lihat bangsa lain, seperti di Timur Tengah. Meski negara-negara di Timur Tengah itu memiliki satu bahasa tetapi tak bisa bersatu,” kata politisi muda pada acara Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di Universitas Borobudur Jakarta, Kamis (7/4).

Acara diselenggarakan oleh MPR bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Borobudur ini mengambil tema: “Meneguhkan Nasionalisme di Kalangan Pemuda.”

Lebih jauh politisi kelahiran Tanjung Tabalong, Kalimantan Timur 46 tahun silam tersebut mengatakan, In kita bisa bersatu karena meonesia bersatu karena miliki Pancasila sebagai dasar negara. “Pancasila adalah alat pemersatu bangsa. “Pancasila hanya milik bangsa Indonesia, tidak ada bangsa lain di dunia memiliki dasar negara seperti Pancasila,” jelas kandidat Ketua Umum Partai Golkar ini.

Mahyudin yang telah melakukan sosialisasi ke berbagai pelosok Indonesia mengaku bangga lihat bangsa Indonesia bisa bersatu. Tapi, yang belum membanggakan, menurut Mahyudin, rakyat kita masih banyak miskin, belum sejahtera. Buktinya, pendapatan perkapita kita masih berkisar 5 sampai 10 ribu dolar, sementara negara lain ada yang mencapai lebih 50 ribu dolar.

Untuk itulah, kata Mahyudin, nasionalisme perlu ditanamkan di dalam jiwa setiap bangsa Indonesia, termasuk mahasiwa. “Namun nasionalisme bukan dalam ucapan, melainkan nasionalisme harus diwujudkan dalam bentuk nyata.”

Karena itu, sosialisasi Empat Pilar MPR ini menjadi sangat penting. Hanya saja, meski sosialisasi ini dilaksanakan oleh 692 anggota MPR RI tapi nyatanya belum bisa maksimal. Buktinya, masih ada public figur yang belum mengerti Pancasila, tak mengerti simbol sila-sila dari Pancasila.

Dia juga mengkritik film-film produksi anak bangsa. Kalau negara lain, seperti Jepang, bikin film menceritakan tentang kepahlawan, produser kita bikin mengangkat cerita Rebutan Harta Warisan atau Putri Yang Tertukar. Mahyudin memuji film Cut Nyak Din, atau Film G-30 PKI, yang menceritakan kepahlawan.

Masih kata Mahyudin, meski ada kritik film G-30-S itu dikatakan rekayasa, ia mengaku senang menonton film ini. “Saya tidak melihat dari sisi rekayasanya, tapi saya bangga di film ini Pancasila menang,” demikian Mahyudin. (art)

Komentar