JAKARTA—Effendy Choirie yang pernah merasakan pahitnya dipecat sebagai wakil rakyat dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) DPR RI bersama Lily Chodijah Wahid mengingatkan politisi senior Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Fachri Hamzah beratnya mencari keadilan melawan partai.
Pengadilan menurut anggota Komisi I DPR RI 2004-2009 dan 2009-2014 tersebut, tidak pernah mempertimbangkan apa pun yang menjadi pertimbangan hokum. “Biar kita benar dan mendapatkan dukungan dari seluruh lapisan masyarakat seperti yang saya alami, kita tetap akan kalah. Partai memiliki kekuasaan yang luar biasa. Dalam pandangan pengadilan, kita yang namanya kader partai, apapun itu harus patuh kepada partai. Partai mau benar mau salah, tetap benar,” ujar Effendy, Selasa (5/4/).
Seperti diketahui, Effendy bersama Lily Chodijah Wahid (adik kandung KH Abdurrahman Wahid-red) dipecat PKB pimpinan Muhaimin Iskandar sebagai anggota partai karena dinilai tindakan keduanya selalu berseberangan dengan pemerintah. Padahal, kala itu PKB termasuk partai yang mendukung pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) periode kedua (2009-2014).
Apalagi, kata laki-laki yang akrab dengan sapaan Gus Choi ini, saat itu intervensi dari penguasa sangat kental aromanya. Pengadilan saat itu takut kepada Menteri Sekretaris Kabinet, Sudi Silalahi yang aroma kekuasaannya sangat luar biasa.
“Intervensi pada hakim dan pengadilan pun sangat kuat dirasakannya saat itu. Dia pun meningatkan Fahri akan banyak meterima teror meski dukungan jauh lebih banyak kepadanya. Pengadilan itu sama sekali tidak mengindahkan pembelaan dari para pengacara dan pakar-pakar mengenai hak-hak saya sebagai anggota DPR yang bebas dan dilindungi UU berbicara apapun. Pengadilan juga menolak untuk mempertimbangkan berbagai bahan akademik normatif,” terang dia.
Gus Choi yang saat ini dipercaya sebagai Ketua DPD NasDem Jawa Timur itu menceritakan bagaimana awal pemecatan dirinya karena saat itu PKB, partai tempatnya bernaung bergabung dalam pemerintahan SBY, sementara dirinya menyuarakan kasus-kasus yang saat itu kuat dugaan melibatkan pemeritahan SBY seperti kasus Bank Century dan Mafia Pajak.
“Tugas anggota DPR itu melakukan kontrol terhadap pemerintah yang tidak clean. Nah keyakinan saya untuk menjalankan tugas tersebut berbeda dengan kepentingan partai sebagai bagian dari pemerintahan SBY. Kala itu saya menilai pemerintahan SBY tidak clean dan tidak bisa mempertanggungjawabkan uang Century dan mafia pajak. PKB saat itu ikut menutup-nutupi hal itu, dan saya berbeda, saya pun dipecat,” ungkap Gus Choi.
Terlepas dari tuduhan PKS kepada Fahri yang dianggap membela Setya Novanto dalam kasus ‘Papa Minta Saham’ menurut Gus Choi, Fahri itu sebagai sosok politisi muda yang memiliki karakter dan berani memperjuangkan keyakinannya. Sosok berkareker seperti Fahri ini jelasnya memang kerap menimbulkan kontroversi.
“Soal benar salahnya pembelaan yang dilakukan Fahri kepada Setya Novanto biar masyarakat yang menilai. Namun, saya menilai sosok Fahri adalah politisi muda yang memiliki karakter, punya keyakinan dan sikap politik yang jelas. Orang seperti ini memang kerap menimbulkan kontroversi. Ini yang harus diapresiasi.”
Soal pergantian Fahri Hamzah di DPR, Gus Choi mengatakan, hal itu masih akan melalui proses yang panjang. Bakal ada proses pengadilan yang melelahkan. ”Proses saya saja lama meski pimpinan DPR saat itu sebagian besar adalah pendukung pemerintah, kecuali Pramono Anung dan Priyo Budi Santoso bersikap netral. Nah apalagi sekarang pimpinan DPR nampaknya ada di belakang Fahri semua,prosesnya akan jauh lebih lama lagi setelah proses pengadilan dan proses adminitrasinya selesai,” demikian Effendy Choirie. (art)
Gus Choi : Berat Perjuangan Fahri Melawan Partai
Komentar






