Breaking News
Polhukam

Hidayat: Mahasiswa Harus Amalkan Panca Sila

×

Hidayat: Mahasiswa Harus Amalkan Panca Sila

Sebarkan artikel ini

foto osoJAKARTA– Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid minta agar para mahasiswa yang telah mengikuti program Sosialisasi Empat Pilar Berbangsa dan Bernegara yang digelar MPR RI tidak hanya sekadar mengerti tentang Panca Sila tetapi juga harus mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Pesan tersebut disampaikan Hidayat pada penutupan Bela Negara Sosialisasi Empat Pilar Berbangsa dan Bernegara yang diikuti sedikitnya 100 anggota Resimen Mahasiswa dari 19 Perguruan Tinggi se-Provinsi DKI Jakarta, Minggu (21/2) malam.

Lebih jauh lagi, kata politisi senior Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tersebut, mereka yang mengikuti sosialisasi ini juga bisa memberikan contoh kepada masyarakat bagaimana cara berbangsa dan bernegara yang baik. “Bila perlu, mahasiswa mampu menyebar luaskannya kepada masyarakat khususnya kepada masyarakat di lingkungan para mahasiswa itu sehari-hari.”

MPR RI, kata Hidayat, terus berusaha mensosialisasikan empat pilar ini kepada masyarakat. Tapi, tentu tidak MPR RI saja. Namun, perlu bantuan dari pihak lain termasuk mahasiswa dan media.

Sebelumnya, Wakil Ketua MPR RI, Oesman Sapta Odang yang akrab dengan sapaan OSO mengoreksi pelaksanaan pembukaan acara bela negara sosialisasi empat pilar MPR RI ini. Pasalnya, menurut anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) asal Kalimatan Barat itu, terjadi kesalahan dalam rangkaian pembukaan acara tersebut.

Pada acara pembukaan sosialisasi yang menggunakan metode pendidikan kebangsaan yang kali pertama dilakukan atas dasar pengembangan metode ‘Training of Trainers’ (TOT) dengan metode outbond ini didahului dengan mengumandagkan Himne Bela Negara dan dilanjutkan dengan menyajikan lagu Indonesia Raya.

“Cara itu salah. Seharusnya lagu Indonesia Raya dikumandangkan, baru yang lain seperti Himne Bela Negara. Maaf saya koreksi itu, karena itu salah. Ini sebenarnya. Ini sebenarnya.”

Menurut OSO, ternyata para pemuda masih banyak yang belum mengerti Indonesia. Karena itu, dengan adanya pendidikan kebangsaan yang dikemas melalui metode ‘Bela Negara’ ini dapat mengikisnya. “Inilah gunanya pendidikan kenegaraan Bela Negara. Gara para pemuda ‘Mudeng’ tentang Indonesia sehingga mereka tidak menjadi kebarat-baratan,” kata OSO.

Dia mengaskan, Bela Negara merupakan hari kebangkitan bagi anak-anak muda. Khususnya anak muda yang selama ini dianggap telah kehilangan nasionalisme dan jatidirinya. Karena pada acara ini para pemuda akan kembali dikenalkan pada empat pilar. Yaitu, Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai nonstitusi negara dan ketetapan MPR. “Negara Kesatuan Republik Indonesia Sebagai Bentuk Negara dan Bhineka Tunggal Ika sebagai semboyan negara.”

Oso juga menegaskan, kegiatan Bela Negara sangat penting, meski bangsa Indonesia sudah memiliik anggota TNI dan Polri. Karena hingga kini ditengarai makin banyak pemuda yagg sudah mengalami kelunturan nasionalisme dan jatidiri. “Kita butuh mengingatkan kembali generasi muda akan nasionalisme dan jatidiri bangsa. Apalagi saat ini, ketika diserang nilai-nilai dari luar terus mengalir tanpa batas”, demikian Oesman Sapta Odang. (art)

Komentar