JAKARTA– Pengamat Penerbangan, Alvin Lie mengaku terkejut dengan rencana pemerintah membeli helikopter jenis Agusta Westland AW-101 buatan Inggris-Italia. Heli itu menggantikan peran Heli Puma yang sudah lebih 10 tahun digunakan Presiden atau Wakil Presiden dan tamu VVIP.
AW-101 diklaim sebagai helikopter canggih dan memiliki tingkat keamanan, serta kenyamanan yang baik. Helikopter ini pun didesain antipeluru. Hanya saja, AW101 baru menjadi alat angkut untuk empat kepala negara.
Menurut anggota Komisi VII DPR RI 2004-2009 itu, rencana peremajaan (helikopter) kali ini tanpa sosialisasi. “TNI AU mendadak membeli AW-101, ini kejutan bagi kami,” kata Alvin Lie dalam perbicangan di program “Apa Kabar Pagi” tvOne, Jumat (27/10).
Dijelaskan politisi Partai Amanat Nasional (PAN) itu, pembelian heli ini pada saat PT Dirgantara Indonesia (DI) sudah mampu memproduksi sendiri Helikopter Super Puma, yang kualitasnya tidak kalah dengan AW-101. “Ini berbeda ketika SBY beli Boeing untuk pesawat kepresidenan, karena PT DI tidak membuat itu,” kata dia.
Nyatanya, pemerintah lebih memilih membeli helikopter jenis AW-101, ketimbang menggunakan helikopter buatan dalam negeri. Padahal, Super Puma buatan PT DI sudah terbukti kualitasnya, dan digunakan sedikitnya 32 kepala negara.
“Secara politik ini adalah mosi tidak percaya terhadap produk (yang dihasilkan) perusahaan yang dikelola oleh pemerintah, dan itu ironis,” tegas Alvin.
Sebelumnya, Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU), Marsekal TNI Agus Supriatna mengatakan, pembelian Helir AW-101 sebagai helikopter kepresidenan yang baru sudah melalui tahapan dan kajian mendalam TNI AU.
Menurut Agus, alasan membeli pesawat helikopter AW-101, lantaran dirinya benar-benar mengetahui helikopter mana yang benar-benar canggih dan lebih layak digunakan oleh kepala negara.
“Saya tahu betul, pengalaman bagaimana mengoperasikan pesawat-pesawat yang sekarang ada. Bagaimana servisnya, bagaimana kita mencari suku cadang,” kata Agus.
Tentunya, pembelian pesawat helikopter bagi Presiden, Wakil Presiden dan VVIP, berdasarkan hasil kajian dan penelitian. Jadi, jangan dibuat seperti ini. Segala sesuatu, saya tahu betul, kenapa saya enggak memilih ini, pasti ini karena hasil kajian,” ujar Agus. (art)






