JAKARTA– Pemerintah Indonesia harus memahami peta konflik di wilayah Timur Tengah. Dengan begitu, pemerintah dapat memahami persoalan terorisme di Indonesia secara komprehensif dan bisa melakukan penangkalan meluasnya paham radikal tersebut.
Itu dikatakan Ketua Komisi I DPR RI, Mahfud Siddiq, Selasa (17/11) menanggapi kemungkinan melebarnya teror yang dilakukan Islam State Irak Syria (ISIS) ke Indonesia.
Menurut politis dari Daerah Pemilihan (Dapil) Kabupaten dan Kota Cirebon itu, peta konflik di Timur Tengah yang meluas di wilayah Eropa karena bukan hanya persoalan ISIS. Contohnya ISIS dalam istilah intelijen merupakan “daerah palsu” yang digunakan kekuatan lain dalam menciptakan konflik.
Kalau dilihat wilayah Timur Tengah sebagai episentrum dan Eropa ditarik lebih jauh, kata Mahfud, sangat mungkin konfliknya diperluas ke Asia Barat, Asia Selatan dan Asia Tenggara di negeri yang mayoritas berpenduduk Islam.
Karena itu, apabila pemerintah Indonesia hanya memahami konflik Timteng sebatas ISIS, itu berarti Indonesia belum memiliki peta persoalan yang utuh dan lengkap sehingga terjebak dalam skenario yang dibuat pihak-pihak yang berkepentingan.
Dikatakan, kasus di Timur Tengah memiliki aktor dan faktor yang beragam. Karena itu, Indonesia harus mengidentifikasi “tangan tidak terlihat” dalam pusaran konflik itu.
Kalau bisa memahami dengan baik dan utuh peta konflik di Timur Tengah bukan hanya ISIS, tentu Indonesia mempunyai strategi untuk mengantisipasi dan mencegah hal itu tidak masuk. Karena itu, pemerintah Indonesia jangan membiarkan dan memelihara elemen-elemen masyarakat radikal karena bisa membahayakan kedaulatan Indonesia.
Dicontohkan, ISIS yang awalnya dibiarkan dan dipelihara oleh kepentingan negara-negara tertentu. Namun, sekarang justru membahayakan negara yang memelihara.
Mahfudz meminta, Indonesia tidak mengikuti pola negara-negara lain dalam melihat dan menindaklanjuti kemunculan elemen radikal yaitu dengan membiarkannya serta mempelihara.
“Tugas pemerintah, intelijen, Kepolisian, dan BNPT adalah mencegah elemen-elemen itu berkembang menjadi sel aktif yang dapat digunakan dan dimanfaatkan ISIS,” demikian Mahfud Siddiq. (art)






