Breaking News
Pengawasan

Kebakaran Lahan dan Hutan Harus Diatasi Secara Terpadu

×

Kebakaran Lahan dan Hutan Harus Diatasi Secara Terpadu

Sebarkan artikel ini

bakarJAKARTA– Kegagalan pemerintah Indonesia memadamkan api akibat pembakaran lahan perkebunan dan hutan disebabkan karena tidak diatasi secara terpadu dan dibawah satu komando. Masing-masing institusi yang ada bekerja sendiri-sendiri.

Ahli manajemen kebakaran dari Amerika Serikat, Brad Sanders mengatakan, cara seperti itu tidak dapat mengatasi kebakaran dengan baik sehingga menelan korban jiwa.

Cara paling tepat mengatasinya, kata Brad, harus secara terpadu dibawah satu komando. Dengan cara itu, selain cepat juga jatuhnya korban juga dapat diminimalisir.

“Semua yang terlibat dalam upaya pemadaman seperti Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Pemda, TNI, LSM, Ormas dan dunia usaha harus bersatu, tidak boleh jalan sendiri-sendiri,” kata Sanders dalam diskusi ‘Bagaimana Memadamkan Kebakaran Hutan’, Jumat (30/10)

Sanders yang sudah memiliki asam garam dalam memadamkan kebakaran lahan di Amerika Serikat itu mengatakan, semua pihak harus fokus dan bahu-membahu memadamkan api. Namun tetap harus terpadu dengan strategi penanganan yang menyeluruh dan tidak terkotak-kotak.

Sekarang, kata dia, dunia memantau secara seksama upaya pemadaman kebakaran hutan di Indonesia. Bahkan pemerintah negara sahabat berkomitmen untuk membantu supaya bencana asap bisa segera diatasi dan tidak menimbulkan korban lebih banyak lagi. “Bantuan-bantuan internasional itu harus melalui satu pintu dan direspon dengan cepat.”

Ahli dari negara Paman Sam itu mengapresiasi berbagai aksi kemanusiaan yang dilakukankelompok AGP dan berbagai pihak. Namun, menurutnya, operasi kemanusiaan saja tidak cukup, karena yang paling penting api kebakaran hutannya dipadamkan.
“Operasi kemanusiaan penting, tapi pada saat yang sama apinya harus dipadamkan,” kata dia.

Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawansa mengakui bahwa jumlah korban jiwa dalam musibah kabut asap yang menyelimuti Indonesia telah meningkat menjadi 19 orang. Lima korban berasal dari Sumatera Selatan, lima dari Kalimantan Tengah, lima orang dari Jambi, tiga dari Kalimantan Selatan dan satu orang dari Riau.

Diperkirakan sebanyak setengah juta orang telah menderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) sejak pertama kali munculnya kebakaran hutan pada bulan Juli lalu. (art)

Komentar