JAKARTA—Wakil rakyat dari Daerah Pemilihan (Dapil) Riau, Lukman Edy menuding pemerintah pimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi) lamban dalam menanggulangi asap bekas pembakaran lahanperkebunan yang terjadi di sejumlah daerah di Pulau Sumatera dan Kalimantan sejak beberapa bulan silam.
Bahkan Wakil Ketua Komisi II DPR RI tersebut mengatakan bahwa bencana asap yang menimpa sejumlah provinsi di Pulau Sumatera dan Kalimantan itu bagaikan pembunuhan massal atau genosida.
“Saat ini negara sedang ‘membunuh’ 6,3 juta rakyat Riau secara perlahan. Hari ini asap pekat kembali menyelimuti Riau. Kepekatannya mungkin empat kali lipat dari sebelumnya. No electric, No school, No flight, No oxygen. Demi Allah, ini terasa seperti Genosida!,” kata Lukman, Selasa (6/10).
Anak buah Muhaimin Iskandar tersebut menilai bahwa pemerintah pusat tidak mempunyai koordinasi yang baik dengan pemerintah daerah dalam menanggulangi asap hasil pembakaran ribuan hektar perkebunan dan dan hutan yang menjadi bencana buat masyarakat di daerah tersebut.
“Tidak ada koordinasi yang baik antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah untuk menanggulangi asap hasil kebakaran hutan yang terjadi hampir setiap tahun tersebut,” ketus Wakil Ketua Komisi II DPR RI tersebut.
Lukman menyebutkan sejumlah daerah dalam kondisi udara yang sangat parah akibat kabut asap. Asap di Kalimantan, Indra Giri Hilir, Musi Banyu Asin, Palembang, Jambi dan Riau. Hal serupa juga terjadi di sejumlah wilayah di Kalimantan, terutama Kalimantan Tengah.
Menurut dia, dalam kondisi seperti ini, penyakit saluran pernapasan (ISPA-red) sampai di angka 601. Artinya dua kali lipat dari ambang batas bahaya yang ada di angka 300an. Ironisnya, selama ini, rakyat Riau hanya masker kue, bukan masker standart sesuai status tanggap darurat bencana.
“Kualitas udara bukan lagi berbahaya, tapi sudah merusak bahkan membunuh. Partikel berbahaya ini sudah dua bulan kami hirup tanpa henti. 24 jam setiap hari. Sudah 55 ribu warga, mayoritas balita dan orang tua, bertumbangan karena asap. Ini bukan lagi bencana biasa.”
Lukman mendesak pemerintah bertindak cepat untuk menyelesaikan masalah asap kebakaran hutan dan lahan. Pasalnya, tak sedikit bayi dan anak-anak yang kini terserang sesak napas. Sementara kasus ISPA terus bertambah. Jika tidak ada satu tindakan yang diambil, bukan tidak mungkin berita selanjutnya adalah bayi-bayi yang tidak bernyawa, anak-anak yang dalam kondisi kritis.
“Jika tak bisa sama-sama mendesak pemerintah turun tangan, tolong doakan kami masih tetap bernafas esok hari. Kami masih melawan azab asap!!!!!, “ katanya.
Ditambahkan, satu-satunya cara yang bisa kita lakukan hanya berdoa dan berteriak terus menurus di Media Sosial. Usaha ini dilakukan bukan untuk menjatuhkan siapapun dan menjelekkan siapapun. “Kita mengadu dan meminta kepada Pemerintah agar segera bertindak, berbuat dan bekerja dengan cepat dan menggeluarkan berapapun anggaran yang mencukupi untuk menyelesaikan masalah ini,” demikian Lukman Edy. (art)






