JAKARTA, Ketua DPR RI, Setya Novanto siap untuk mempertimbangkan rencana pembangunan mega proyek DPR RI yang ditaksir menghabiskan anggaran Rp 2,7 triliun. Dana untuk membangun proyek tersebut bakal diambilkan dari Anggaran Pendapatan&Belanja Negara (APBN).
Itu dikemukakan politis senior Partai Golkar tersebut usai menerima tokoh dan budayawan yang tergabung dalam Paguyuban Punakawan, Kamis (27/8). Tokoh dan budayawan itu menemui Ketua DPR RI untuk menyatakan penolakan pembangunan mega proyek DPR RI karena ekonomi Indonesia sedang sulit.
Paguyuban Punakawan itu antara lain terdiri dari pendiri MURI Jaya Suprana, pakar hukum Mahfud MD, Ketua Kwartir Nasional (Kwarnas) Gerakan Pramuka Adhyaksa Dault, ahli ekonomi yang juga tokoh lingkungan hidup Emil Salim serta aktivis sosial Romo Benny Susetyo.
“Mega proyek itu merupakan program jangka panjang. Kita akan evaluasi termasuk penolakan para tokoh dan budayawan seperti pembangunan museum,” kata Setya Novanto.
Para tokoh itu menolak karena meyakini masyarakat butuh bukti DPR berkualitas dan benar-benar wakil rakyat yang memperjuangkan apa yang menjadi aspirasi rakyat tersebut.
Menurut merekam 7 proyek DPR itu hanya menjadi mercusuar karena tidak bisa digunakan meningkatkan kualitas para anggota DPR RI. Yang dibutuhkan DPR RI saat ini adalah kualitas intelektual.
“Saya kira usulan pembangunan itu menyinggung hati nurani masyarakat kecil. Sebaiknya ditunda,” kata Emil Salim.
Anggota kabinet pemerintahan Orde Baru itu juga mengkritisi program pemerintah yang terkesan tak memperhatikan pembangunan di beberapa daerah.
Menurut dia, pemerintah lebih menitikberatkan program pembangunan ground breaking kereta super cepat Jakarta-Bandung.
“Sebaliknya pemerintah di tengah-tengah ketimpangan 80 desa butuh alat transportasi, tapi mau membangun Jakarta-Bandung yang 30 menit. Mana sense of urgency-nya? Mana yang urgen di DPR dan pemerintah, kita menghadapi kriris yang serius. Krisis ini itu akan masih berlanjut,” tutur tokoh nasional ini.
Romo Benny juga meminta proyek tujuh DPR ini ditunda. “Kita tunda dulu proyek itu. Lebih baik fokus di program dana desa. Ini bagus untuk dukungan masyarakat. Maka kita harus belajar krisis ini menjadi momentum kita untuk belajar,” demikian Romo. (art)






