JAKARTA– Satelit Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) mendeteksi 65 titik panas berada di Sumatera dengan tingkat kepercayaan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) lebih dari 50 persen.
Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Stasiun Pekan Baru, Slamet Riyadi mengatakan, jumlah titik panas itu mengalami kenaikan dibanding pantauan terakhir 51 titik panas.
“Hampir 94 persen atau 61 titik panas dari total 65 jumlah titik, terkosentrasi di Provinsi Riau. Sisanya di Provinsi Lampung terdeteksi tiga titik dan Provinsi Sumatera Barat satu titik. Titik panas di Riau tersebar di Rokan Hilir 36 titik, Siak 13 titik, Bengkalis sembilan titik, Rokan Hulu dua titik dan Kampar satu titik,” kata Slamet kemarin.
Terdapat empat daerah yang terdeteksi oleh satelit dengan jumlah total 49 titik merupakan titik api karena miliki tingkat kepercayaan lebih dari 70 persen atau berpotensi karlahut. “Ke-49 titik api itu berada di Rokan Hilir 31 titik, Siak (10), Bengkalis (7) dan Kampar satu titik.
Kabut asap tebal sebagai dampak dari kebakaran hutan dan lahan dilaporkan mulai menyelimuti wilayah di Kecamatan Mandau dan Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis.
Hendre, warga Kecamatan Mandau mengatakan, dalam beberapa hari ini terakhir terutama pagi, kabut asap mulai terlihat. Setelah tengah hari, kabut asap menipis dan hilang. “Jumat dan Sabtu pagi, kondisinya semakin memburuk. Bahkan jarak pandang mulai terganggu, hanya 150 meter.”
Dilaporkan, debu hasil pembakaran lahan dan hutan di wilayah itu berterbangan, sehingga mengganggu kualitas udara di Riau. Meski kabut asap tebal menyelimuti wilayah ini, tapi warga tetap melakukan aktivitas di luar rumah tanpa mengenakan masker.
Kepala daerah setempat telah mengintruksikan Badan Lingkungan Hidup (BLH) dan Dinas Kesehatan Bengkalis terus memantau lapangan. “Setiap hari harus dipantau, lakukan koordinasi dengan PT Chevron Pasifik Indonesia. Terutama untuk mengetahui kadar polusi udara di Mandau dan Pinggir. Jika benar-benar berbahaya, kita bisa liburkan anak-anak sekolah,” kata Bupati Bengkalis, Amril Mukminin. (art)






