Breaking News
ASPIRASI DAERAHBERITA UMUMDaerahDPD RIEkonomiNasionalUmum

Duet Irman Gusman – Firdaus HB, Siap Memacu Kebangkitan Ekonomi Ampek (IV) Koto

×

Duet Irman Gusman – Firdaus HB, Siap Memacu Kebangkitan Ekonomi Ampek (IV) Koto

Sebarkan artikel ini

Oleh: Syafruddin AL

Tidak banyak kampung yang mampu menghadirkan tokoh-tokoh nasional dalam sebuah acara silaturahmi perantau. Apalagi jika kampung itu hanya sebuah jorong yang berada jauh di lereng Ngarai Sianok, Kecamatan Ampek (IV) Koto, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.

Namun, Minggu siang (31/5/2026), Lambah membuktikan dirinya bukan kampung biasa.

Jorong yang berada dalam Kenagarian VI Suku itu mendadak menjadi pusat perhatian. Di Gedung Persatuan Keluarga Daerah Piaman (PKDP), Kota Tangerang, ratusan perantau Lambah berkumpul dalam suasana penuh kehangatan. Hadir Camat Ampek Koto Subchan, Wakil Bupati Agam M. Iqbal, dan yang paling menyita perhatian, senator senior Indonesia, Irman Gusman, mantan Ketua DPD RI dua periode.

Biasanya, acara tingkat jorong atau kampung hanya dihadiri wali nagari atau camat. Namun kali ini suasananya berbeda. Lambah seolah naik kelas.
Nama kampung kecil yang berada di kaki Ngarai Sianok itu bergema hingga tingkat nasional.

“Ketika situasi ekonomi sedang tidak baik-baik saja, tidak ada istilah turun level. Kita memang harus turun ke bawah untuk melihat realita di akar rumput. Saya senang dengan kegiatan seperti ini. Bahkan ini pertama kalinya saya hadir dalam acara tingkat jorong,” ujar Irman Gusman yang disambut tepuk tangan hadirin.

Meski dikenal sebagai tokoh yang lama berkecimpung dalam dunia ekonomi dan kebijakan nasional, Irman tampil cair. Sesekali ia menyampaikan analisis ekonomi makro, namun kemudian membungkusnya dengan logat Minang yang kental, membuat pesan-pesan yang disampaikannya mudah diterima para perantau yang mayoritas bergerak di sektor UMKM dan perdagangan.

Pada hari yang sama, juga dilaksanakan pelantikan pengurus Ikatan Kerukunan Keluarga Perantau Lambah (IKKPL) yang langsung dilakukan oleh Wakil Bupati Agam, M. Iqbal. Momentum itu menjadi titik awal konsolidasi warga Lambah di perantauan untuk ikut memikirkan masa depan kampung halaman mereka.

Sosok di Balik Kebangkitan Lambah

Banyak yang bertanya, siapa tokoh yang mampu menghadirkan sederet figur penting dalam acara tingkat jorong tersebut?

Sebagian orang mungkin menduga nama besar seperti Dony Oskaria, putra Lambah yang kini menjadi salah satu tokoh penting di lingkungan BUMN dan Danantara. Namun di balik layar, sosok yang menjadi motor penggerak kegiatan itu adalah Ir. Firdaus Hasan Basri (Firdaus HB).

Nama Firdaus HB bukan sosok asing bagi masyarakat Minangkabau. Kiprahnya di berbagai organisasi perantau telah berlangsung puluhan tahun. Ia dikenal sebagai Ketua Forum Minang Maimbau (FMM), sekaligus salah satu tokoh yang pernah menukangi dan membesarkan Temu Saudagar Minangkabau yang kemudian berkembang menjadi Forum Silaturahim Saudagar Minangkabau (FSSM).

Bagi Firdaus, pertemuan perantau bukan sekadar ajang melepas rindu kampung halaman. Lebih dari itu, pertemuan harus menjadi ruang melahirkan gagasan dan kerja nyata untuk membangun daerah asal. “Ambo urang Lambah, tapi numpang lahir di Bukittinggi,” kata Firdaus mengabarkan.

Tak heran jika kehadiran Irman Gusman, Wakil Bupati Agam M. Iqbal, hingga Camat Ampek Koto Subchan dalam acara tersebut tidak bisa dilepaskan dari jejaring dan ketokohan Firdaus HB yang selama ini terbangun kuat di ranah maupun rantau.

Namun, menurut Firdaus, daya tarik Lambah sesungguhnya bukan terletak pada siapa yang datang, melainkan pada potensi besar yang selama ini belum tergarap secara optimal.

“Lambah ini kawasan yang luar biasa. Dari sini kita bisa melihat Ngarai Sianok dari sudut yang berbeda. Potensinya sangat besar untuk dikembangkan,” ujarnya.

Bahkan, beberapa dekade lalu, pengusaha perhotelan legendaris asal Minangkabau, Datuk Pangeran, pernah memiliki gagasan besar membangun lapangan golf bertaraf internasional di kawasan Lambah. Sebuah konsep yang unik, di mana para pegolf dibayangkan turun menggunakan lift raksasa dari Bukit Apit menuju dasar lembah Ngarai Sianok.

Gagasan itu memang belum terwujud. Namun kisah tersebut menunjukkan bahwa kawasan ini sejak lama telah dipandang memiliki nilai ekonomi dan pariwisata yang luar biasa.

Dari Dialog Jorong Lahir Gagasan Besar

Yang paling menarik dari pertemuan itu justru lahir saat sesi dialog. Irman Gusman menyampaikan sebuah perbandingan yang membuat ruangan sejenak terdiam.

Menurutnya, Kota Bukittinggi yang hanya memiliki beberapa ikon utama seperti Jam Gadang, Lubang Jepang, dan Pasar Ateh mampu menghasilkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sekitar Rp700 miliar per tahun. Sementara Kabupaten Agam yang memiliki bentang wisata jauh lebih luas—mulai dari Ngarai Sianok, Koto Gadang, Padang Luar, Danau Maninjau hingga Pantai Tiku—baru mampu menghasilkan PAD sekitar Rp200 miliar.

“Kalau tidak ada Ngarai Sianok, mungkin tidak ada Bukittinggi seperti yang kita kenal hari ini,” ujar Irman.

Pernyataan itu mengandung pesan mendalam.

Selama ini, ketika orang menyebut Ngarai Sianok, yang langsung terlintas di benak wisatawan adalah Bukittinggi. Padahal sebagian besar kawasan lembah ikonik tersebut berada di wilayah Kabupaten Agam.

Menurut Irman, kondisi itu harus menjadi bahan refleksi bagi pemerintah daerah dan masyarakat Ampek Koto. Potensi wisata yang besar tidak boleh hanya menjadi pelengkap bagi pertumbuhan ekonomi daerah lain.

“Apakah Ngarai Sianok hanya akan menjadi tempat ‘buang sampah’ bagi wisatawan yang datang ke Bukittinggi lalu turun ke ngarai?” tanyanya retoris.

Pernyataan tersebut mendapat respons dari Wakil Bupati Agam M. Iqbal. Ia mengakui bahwa persoalan sampah memang menjadi tantangan nyata di kawasan Ngarai Sianok.

“Benar, Pak Irman. Itu tidak bisa kita bantah. Karena itu sekarang kami berupaya mengolah sampah tersebut menjadi sumber ekonomi yang memiliki nilai tambah,” kata Iqbal.

Irman juga menyoroti keberadaan Koto Gadang yang kini dikenal sebagai salah satu desa wisata terbaik di Indonesia.

Menurutnya, keberhasilan Koto Gadang harus menjadi pintu masuk untuk membangun kawasan wisata terpadu di Ampek Koto dan hinterland Bukittinggi.

Menuju Kekuatan Baru Ampek Koto

Gagasan-gagasan yang dilontarkan Irman rupanya membangkitkan semangat baru di kalangan perantau.

Firdaus HB bahkan secara terbuka menyatakan kesiapannya untuk berduet dengan Irman Gusman dalam menggerakkan pembangunan kawasan Ampek Koto.

Baginya, kekuatan terbesar daerah ini sesungguhnya terletak pada sumber daya manusianya yang tersebar di berbagai daerah dan menempati posisi strategis di tingkat nasional.

Dari Ampek Koto lahir banyak tokoh penting saat ini di samping tokoh nasional masa lalu yang hebat. Saat ini ada Dony Oskaria dan Pandu Sjahrir yang kini berada di lingkaran strategis Danantara, ada jurnalis senior Karni Ilyas, senator Irman Gusman, hingga sejumlah pengusaha dan tokoh perantau yang sukses di berbagai daerah.

“Kalau seluruh potensi ini bisa dihimpun dalam satu gerakan bersama, tentu akan menjadi kekuatan besar bagi pembangunan Ampek Koto,” ujar Firdaus yang pernah menjadi Ketua Gubu Minang Jatim dan Ketua Forum Pembauran Jawa Timur itu.

Karena itu, dalam waktu dekat ia bersama Irman Gusman berencana membentuk Kerukunan Keluarga Perantau Ampek Koto, sebagai wadah besar yang akan menghimpun seluruh potensi perantau dari Lambah, Koto Gadang, Guguk, Balingka, dan nagari-nagari lainnya di kawasan Ampek Koto.

Gagasan itu menjadi semakin relevan di tengah menguatnya wacana pembentukan Kabupaten Agam Tuo, dengan Balingka disebut-sebut sebagai salah satu kandidat pusat pemerintahan masa depan.

Bagi Firdaus, momentum kebangkitan Ampek Koto tidak boleh disia-siakan. “Insya Allah, kawasan hinterland Bukittinggi akan segera kita kembangkan bersama. Kita ingin kawasan ini bangkit menjadi mercusuar pembangunan ekonomi Kabupaten Agam di masa mendatang,” tegasnya.

Dari sebuah pertemuan sederhana warga Lambah di perantauan, lahirlah gagasan besar tentang masa depan Ampek Koto yang hari itu langsung dideklarasikan. Sebuah gagasan yang mempertemukan pengalaman nasional Irman Gusman dengan jejaring perantau yang dimiliki Firdaus HB.

Jika duet ini benar-benar bergerak, bukan mustahil kawasan yang selama ini hanya menjadi latar keindahan Bukittinggi akan tampil sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru di Sumatera Barat. Dan, semuanya berawal dari sebuah acara tingkat jorong bernama Lambah. (*)


Teks foto: Firdaus HB (kanan) saat bertemu Irman Gusman pada 2016. (Foto IST)

 

Komentar