JAKARTA– Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengapresiasi program pendidikan dan latihan (diklat) berbasis 3 in 1 karena merupakan pendidikan vokasi berbasis kompetensi untuk menyiapkan tenaga kerja ahli di sektor industri
Sedikitnya 300 siswa ikut diklat operator mesin industri garmen di Balai Diklat Industri (BDI) Jakarta dengan mengikuti program bersistem three in one (3 in 1), yakni pelatihan, sertifikasi dan penempatan.
”Saya apresiasi program diklat berbasis 3 in 1 ini karena merupakan pendidikan vokasi berbasis kompetensi untuk menyiapkan tenaga kerja ahli di sektor industri,” tegas Airlangga saat membuka Diklat Operator Mesin Industri Garmen dengan sistem 3 in 1 di BDI Jakarta seperti siaran pers yang diterima Parlementaria,com, Selasa (24/8).
Pada acara itu, Airlangga didampingi Sekjen Kemenperin Syarif Hidayat, Dirjen Industri Kimia, Tekstil dan Aneka (IKTA) Kemenperin Achmad Sigit Dwiwahjono, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin Haris Munandar.
Juga hadir Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Industri Mujiyono, Deputi Bidang Kependudukan dan Ketenagakerjaan Bappenas Rahma Iryanti serta Deputi IV Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Mohammad Rudy Salahuddin.
Menurut Airlangga, diklat ini sebagai upaya memenuhi kebutuhan tenaga kerja di industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) dalam negeri yang terus meningkat seiring dengan laju pertumbuhan kinerja sektor padat karya. “Lulusan tidak saja pada tingkat operator, tetapi juga diharapkan untuk tingkat ahli yang setara dengan pendidikan Diploma 1 sampai Diploma 4.”
Ini tercermin dari data permintaan tenaga kerja tingkat ahli dari lulusan Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil (STTT) Bandung milik Kemenperin. Setiap tahun, permintaan dari industri mencapai 500 orang, sementara STTT Bandung hanya mampu meluluskan 300 orang.
Karena itu, kata dia, pihaknya menyelenggarakan program pendidikan Diploma 1 dan Diploma 2 bidang tekstil di Surabaya dan Semarang sejak 2012. Kegiatan ini menggandeng STTT Bandung, PT APAC Inti Corpora, Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) serta perusahaan tekstil di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Tahun lalu, Pusdiklat Industri Kemenperin bekerja sama dengan API dan Pemkot Solo membuka Akademi Komunitas Industri TPT program Diploma 2 di Solo Techno Park. Seluruh lulusannya ditempatkan di perusahaan. “Langkah-langkah ini sebagai upaya strategis kami untuk memenuhi permintaan atas tenaga kerja tingkat ahli di sektor industri TPT.”
Dikatakan, pendidikan vokasi industri berbasis kompetensi diperlukan untuk penyiapan tenaga kerja Indonesia agar mampu bersaing dengan tenaga kerja asing terutama dalam pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN yang telah berjalan.
“Kami berpesan kepada seluruh peserta agar terus belajar dengan baik, disiplin dan bertanggung jawab. Setelah penempatan kerja nanti juga terus meningkatkan kompetensi, disiplin, kejujuran dan etos kerja serta menunjukkan profesionalitas dalam bekerja,” papar Airlangga.
Setelah mendapatkan pengalaman bekerja yang cukup, Menperin berharap ke depannya, para lulusan diklat ini dapat membuat kelompok usaha bersama untuk pengembangan industri kecil dan menengah (IKM) di sektor tekstil, dengan menerima pesanan dari perusahaan-perusahaan TPT yang telah berkembang. (art)






