JAKARTA– Kejahatan perdagangan manusia (human trafficking) sudah meresahkan warga Nusa Tenggara Timur (NTT). Karena itu, Kepolisian Daerah (Polda) terus berusaha memberantas kejahatan ini.
“Ada tujuh jaringan human trafficking yang kita identifikasi. Dari ketujuh jaringan itu baru satu kita tangkap bersama kru-krunya,” kata Kapolda NTT Brigjen Pol E. Widyo Sunaryo dalam jumpa pers di Marpolda NTT, Senin (22/8).
Dijelaskan, selain YLR yang telah ditangkap Polda NTT saat menjalankan aksinya di Bandar Udara (Bandara) El Tari Kupang, jaringan itu terus diusut keberadaannya “YLR petugas di Bandara El Tari Kupang. Dalam kasus ini, dia sebagai agen perekrut dari PT CSA-Medan.
“Ia juga berperan sebagai orang yang bertugas untuk meloloskan para calon TKI agar bisa diterbangkan ke Medan. Dari hasil pemeriksaan, YLR mengaku sudah enam bulan bekerja sebagai perekrut telah mendapatkan uang Rp1,6 miliar dari hasil perdagangan manusia,” tutur Kapolda NTT.
YLR (38 tahun) juga mengurus keberangkatan korban calon TKI dari agen-agen lain yang berada di NTT. “Itu yang mengakibatkan selama ini kasus perdagangan manusia bergitu bebas di bandara. Ada orang dalam ikut bermain. Dari penangkapan YLR berhasil diamankan 13 orang yang merupakan tim perdagangan manusia.”
Terkait enam jaringan lainnya, Polda NTT terus mengusut bekerja sama dengan Polda Sumut serta pihak Bareskrim Polri. Polda NTT kembali mengencarkan pengusutan kasus perdagangan manusia pasca kematian TKI Yulfrida Selan yang meninggal secara tidak wajar ketika dibawa ke kampung halamannya.
Presiden Joko Widodo (Jokowi), menurut Kapolda NTT itu, sudah meminta Kapolri menuntaskan kasus. “Kapolri menyampaikan kepada saya untuk menangkap para pelakunya. Memang berat, tetapi saya yakin kalau bekerja sama kita bisa mengusutnya,” demikian Widyo Sunaryo. (art)






