KITA sudah begitu maju, padahal kehidupan bernegara kita masih diancam, setidak-tidaknya potensi ancaman. Munkin sejak zaman kolonial sudah ada .
Soal sumpah pemuda dulu menghilangkan batas suku. Sekarang apa bukan tidak ada? Masih ada, kenapa orang Betawi begitu anti sama Ahok, kalau ga ada soal suku dan soal agama.
Soal ekonomi sekarang ini lebih gawat kesenjangannya. Banyak, beberapa puluh orang, mungkin menguasai sepertiga kekayaan Indonesia. Dahulu tidak sepeti ini, tetapi karena volume kekayaan kita lebih besar dahulu mungkin karena itu tidak terasa, tetapi sebenarnya kesenjangan itu kejam sekarang ini.
Ancaman seperatisme apa tidak ada? Padahal masih hidup, setidak- tidaknya di setiap wilayah negeri kita ini dan masih ada dan kalau itu tidak segera diatasi secara tepat itu bisa menjadi ancaman yang ril walaupun sekarang masih potensial.
Ancaman agama menurut saya justru lebih gawat. Saya mengatakan sekarang ini ada bahaya baru, bahaya laten Islamisme sekarang ini adanya. Dulu tidak ada sekarang ada, karena ada sejumlah orang yang bukan hanya merobah negara ini menjadi negara Islam tetapi memaksa orang keluar dari Indonesia itu nanti. Ini sesuatu hal yang menurut hemat saya amat mengerikan.
Anda bisa membayangkan untuk mempertajam bayangan anda dengan melihat ke Syuriah atau ke Irak. Saya kira itu akan terjadi kalau kita tidak mengatasinya dengan tepat.
Tentu banyak ketimpangan Jawa dan Luar jawa itu sudah disinggung, tetapi ketimpangan atas dan di bawah itu dengan indeks diatas 4, sudah dekat ke-5 itu sudah menunjukan kekejaman bagaimana rente itu ngumpul di kalangan orang-orang tertentu dan yang lain hanya menonton atau mengemis.
Jangankan yang di pinggir jalan, saya saja kerja saya mengemis. Waktu saya sakit saya minta bantuan ke tokoh-tokoh nasional, ya dibantu.
Jadi oang yang seperti saya juga mengemis, bukan hanya di pinggir jalan tetapi saya mengemis di kantor-kantor ke tokoh-tokoh nasional dan semuanya memberi dengan jumlah yang sesuai dengan keinginan mereka, inilah gambaranya. Padahal saya seorang dosen yang pangkatnya itu IVD.
Demokrasi sekarang ini sudah salah kaprah jadinya orang menggunakan kebebasan tanpa batas, kebebasan mutlak. Mana ada di dunia kebebasan mutlak, hanya dirimba sana baru ada kebebasan mutlak tetapi kalau ada di suatu negara harus aturan mainnya, harus ada batasannya. Di Amerika kebebasan juga di batasi, tidak ada dibiarkan begitu saja.
Nah, ini disalahgunakan di eksploitasi dengan menempelkan kepada kelompok, suku dan agama lalu dengan alasan itu ini menjadi potensi Indonesia yang menjadi rusak ini.
Ini kalau kita lihat kelemahannya banyak sekali, tatapi kita harus bersyukur bahwa 17 tahu terakhir di era reformasi adalah Indonesia terbaik.
Kenapa ..ya orang Indonesia, supir taxi , tukang becak mengatakan bahwa yang terbaik di zaman Soeharto, karena uang mudah didapat, uang banyak dimana-mana , ekonomi maju dan tumbuh, tetapi dibawah diktator.
Tetepi kalau sekarang ini hanya tumbuh 5 % paling tinggi 5 % malah sekarang 5,1 % di tahun 2016 ini 5,2 % , itu ada pertumbuhan. Itu jauh lebih tinggi dari Japan, lebih tinggi dari Amerika. Cuma Amerika negara kaya , dia tumbuh 1 % saja bisa hidup .
Itu apa artinya? Pertumbuhan 5 % itu berarti semua tenaga Indonesia beramai-ramai menghidupkan dirinya sambil menghidupkan juga keluarganya dan negaranya, termasuk hidup dan tumbuh.
Cuma itu maksimal yang dihasilkan di zaman era sekarang ini, tidak bisa mencapai zaman Soeharto 7%. Tidak sampai karena negara ini terlalu lemah untuk bisa memberikan fasilitas kepada banyak orang supaya lebih tumbuh ekonominya. Tidak ada uang negara dan anggara tidak ada.
Di zaman Soeharto banyak anggaran dan dibangun banyak-banyak makanya kecipratan, naik semuanya dan sekarang tidak bisa lagi tetapi itu sudah syukur karena kita termasuk negara menengah.
Stabilitas politik secara umum sekarang kita yang paling stabil di bawah demokrasi. Kalau di bawah otoriter iya orang tidak bisa bergeming. Tidak bisa bergerak satupun. Tetapi di bawah demokrasi sekarang kita mempunya kebebasan tetapi relatif stabil.
Memang ada demo 121, 411 dan sebagaianya. Demo besar yang mengerikan, sungguh mengerikan bagi saya, tetapi dapat diamankan.
Sekarang saya kira kemajuan-kemajuan ekonomi, stabilitas politik, demokrasi jadi kemajuannya itu kompleks menyeluruh di berbagai macam bidang. Kita bisa maju walaupun majunya tidak terlalu tinggi tetapi menengah-menengah saja atau menengah ke bawah dan ini kehebatan demokrasi sekarang ini.
Dulu demokrasi juga, namun paling sengsara. Sekarang demokrasi karena ada system yang memungkinkan. Nah system itu yang amandemen tadi membenarkan menginovasi system baru itu presidensial.
Jadi demokrasi presidensial itulah kerangka demokrasi hidup bersama yang memunkinkan kita bebas dan munkin juga kita tumbuh sekalipun sedang-sedang saja.
Saya kira Pancasila itu yang penting, masih ada kemelut ini dasar negara atau ideologi. Kalau saya menunjukan sebagai dasar Negara sudah pas. Itu tidak usah di otak atik. Tetapi sebagai ideologi itu harus dikembangkan karena tidak ada petunjuk yang jelas. Di situ kacau balau itu.
Saya kira, selain dari itu tidak bisa perubahan ideologi ini saja yang diharapkan untuk memperbaiki Negara ini dan untuk memelihara tetapi juga system politiknya yang harus disempurnakan.
Ada dua kelemahan dari system presidensial kita ini yaitu ketidak jelasan pemisahan kekuasaan Negara lalu ketidak jelasan cek and balances. Nah kalau itu sudah bisa dipenuhi oleh UUD atau perundang-undangannya mungkin system ini akan menjadi lebih baik. (dikutip dari diskusi 4 Pilar MPR di Media Center DPR, 13 Februari 2017)






