Breaking News
InternasionalOpiniSorotanUmum

PESAN PAK NATSIR DAN PELAJARAN DARI KEJATUHAN KEIR STARMER

×

PESAN PAK NATSIR DAN PELAJARAN DARI KEJATUHAN KEIR STARMER

Sebarkan artikel ini

Oleh: Shamsul Iskandar Mohd Akin

Dalam politik, kemenangan besar sering kali melahirkan ilusi yang berbahaya: seolah-olah mandat rakyat yang kuat akan dengan sendirinya menjamin kelangsungan kekuasaan untuk waktu yang panjang. Padahal, sejarah politik dunia berkali-kali menunjukkan hal sebaliknya. Mandat besar dapat menguap dengan cepat apabila sebuah pemerintahan gagal mengelola harapan rakyat yang terus bergerak dan semakin tinggi.

Apa yang terjadi pada Keir Starmer dan Partai Buruh di Inggris patut menjadi bahan renungan. Pada tahun 2024, Starmer memimpin Partai Buruh meraih kemenangan besar, mengakhiri lebih dari satu dekade pemerintahan Partai Konservatif. Ia tampil sebagai simbol perubahan dan harapan baru bagi rakyat Inggris yang telah lelah menghadapi ketidakpastian politik, tekanan ekonomi, dan menurunnya kepercayaan publik terhadap pemerintahan sebelumnya.

Namun, tidak lama setelah kemenangan itu, dukungan terhadap dirinya mulai merosot. Mandat besar yang semula dianggap sebagai awal dari era baru justru berubah menjadi beban politik yang berat.

Kemenangan yang memberi harapan besar ternyata juga melahirkan tuntutan yang jauh lebih besar.
Di sinilah saya teringat pesan almarhum Mohammad Natsir.

Beliau pernah mengingatkan bahwa banyak pejuang berhenti mendayung ketika merasa dirinya sudah hampir sampai ke pantai. Padahal, kenyataannya mereka masih berada di tengah arus. Ketika dayungan berhenti, arus akan membawa mereka ke arah yang tidak pernah diduga.
Itulah salah satu pelajaran terbesar dari kisah Keir Starmer.
Memenangkan pemilu dan mengelola negara adalah dua hal yang berbeda.

Ketika menjadi oposisi, Partai Buruh berhasil meyakinkan rakyat bahwa pemerintahan Konservatif harus diganti. Namun ketika kekuasaan berada di tangan mereka, rakyat mulai mengajukan pertanyaan yang jauh lebih mendasar. Bukan lagi siapa yang harus disingkirkan, melainkan ke mana negara ini akan dibawa.

Banyak pemilih melihat pemerintahan Starmer sebagai pemerintahan yang tertib dan efisien, tetapi kurang mampu menawarkan gambaran besar tentang masa depan Inggris. Mereka melihat administrasi yang berjalan, tetapi tidak merasakan inspirasi. Mereka melihat pengelolaan yang rapi, tetapi tidak menemukan harapan yang menyentuh kehidupan mereka.

Di sinilah tantangan besar yang dihadapi hampir semua gerakan perubahan di dunia. Sebuah gerakan politik bisa menang karena berhasil menunjukkan kelemahan pemerintahan sebelumnya. Namun untuk mempertahankan dukungan rakyat, gerakan itu harus mampu menawarkan visi yang lebih besar, lebih jelas, dan lebih meyakinkan tentang masa depan.

Rakyat pada akhirnya tidak hanya memilih perubahan. Mereka memilih harapan.

Pelajaran kedua adalah bahwa harapan rakyat selalu bergerak lebih cepat daripada hasil kebijakan pemerintah.
Starmer mewarisi ekonomi yang lemah, utang yang tinggi, dan biaya hidup yang membebani rakyat. Banyak persoalan itu bukan berasal dari dirinya. Namun dalam politik, rakyat jarang membedakan secara rinci antara masalah yang diwarisi dan masalah yang gagal diselesaikan.

Ukuran rakyat sebenarnya sederhana: apakah kehidupan mereka menjadi lebih baik?
Jika jawabannya belum terasa, maka kekecewaan akan mulai muncul.

Fenomena ini terjadi hampir di semua negara demokrasi.
Reformasi ekonomi, pembaruan institusi, dan perbaikan tata kelola membutuhkan waktu panjang. Namun rakyat menilai pemerintah dari pengalaman hidup sehari-hari. Harga kebutuhan pokok, kesempatan kerja, pendapatan keluarga, layanan publik, dan biaya hidup akan selalu menjadi ukuran utama keberhasilan sebuah pemerintahan.

Karena itu, pemerintah bukan hanya harus melaksanakan kebijakan yang tepat, tetapi juga harus terus menjelaskan mengapa kebijakan itu diperlukan, ke mana arahnya, dan bagaimana manfaatnya akan dirasakan oleh rakyat.
Pelajaran ketiga adalah pentingnya menguasai narasi politik.

Dalam banyak situasi, pemerintahan Starmer terlihat lebih sering bereaksi terhadap isu yang diangkat lawan politik, dibandingkan membentuk agenda politiknya sendiri.

Akibatnya, oposisi berhasil menempatkan diri sebagai suara kemarahan rakyat, sementara pemerintah terlihat terus-menerus berada dalam posisi bertahan.

Dalam politik modern, fakta saja tidak cukup.

Fakta membutuhkan narasi.

Rakyat tidak selalu mengingat angka. Rakyat mengingat cerita yang memberi makna terhadap angka tersebut.

Sebuah pemerintahan bisa saja mencatat pertumbuhan ekonomi, peningkatan investasi, atau keberhasilan berbagai program pembangunan.
Namun jika keberhasilan itu gagal diterjemahkan ke dalam bahasa yang dipahami rakyat, maka manfaat politiknya akan sangat terbatas.

Pelajaran keempat adalah pentingnya persatuan dan disiplin organisasi.

Salah satu faktor yang mempercepat kemerosotan Starmer adalah konflik internal yang semakin terbuka di tubuh Partai Buruh.

Perbedaan pandangan yang tidak dikelola dengan baik akhirnya menciptakan kesan bahwa pemerintah kehilangan kendali atas timnya sendiri.
Rakyat memahami bahwa perbedaan pandangan pasti ada dalam setiap organisasi politik. Namun rakyat tidak menyukai perpecahan yang dipertontonkan secara terbuka.

Dalam politik, yang melemahkan sebuah pemerintahan sering kali bukan hanya serangan lawan, tetapi retaknya barisan dari dalam.

Banyak pemerintahan tidak jatuh semata-mata karena kuatnya oposisi. Mereka melemah karena kehilangan kesatuan, arah, dan disiplin di dalam dirinya sendiri.

Pelajaran terakhir, kejatuhan Starmer menunjukkan bahwa kompetensi saja tidak cukup dalam politik.
Ia dikenal sebagai pemimpin yang serius, tertib, dan berwibawa. Namun banyak pemilih gagal melihat cita-cita besar yang diperjuangkannya.

Mereka melihat seorang administrator yang baik, tetapi tidak merasakan hubungan emosional yang kuat dengan kepemimpinannya.

Di sinilah relevansi pesan lain dari Mohammad Natsir. Setelah memasuki fase baru perjuangan, tugas yang sesungguhnya bukan sekadar mengelola kemenangan, tetapi membangun masyarakat.

Kekuasaan hanyalah alat. Tujuannya adalah menghadirkan perubahan yang dirasakan rakyat serta menjaga keyakinan mereka terhadap cita-cita yang diperjuangkan.

Kisah Keir Starmer bukan sekadar kisah jatuhnya seorang Perdana Menteri Inggris. Ini adalah pengingat bagi semua gerakan politik bahwa kemenangan pemilu bukanlah garis akhir.

Kemenangan hanyalah awal dari ujian yang sesungguhnya.

Rakyat dapat memberikan mandat karena mereka menginginkan perubahan. Namun mereka hanya akan memperbarui mandat itu apabila melihat bahwa perubahan tersebut benar-benar membawa masa depan yang lebih baik.

Dalam bahasa Pak Natsir, kita belum sampai ke pantai.

Karena itu, jangan berhenti mendayung. Sebab dalam politik, ketika seseorang merasa perjuangannya telah selesai, pada saat itulah kemunduran sering kali dimulai. (*)

*) Shamsul Iskandar Mohd Akin adalah mantan Kepala Staf Politik Datuk Seri Anwar Ibrahim, Perdana Menterib Malaysia, dan Anggota Parlemen Malaysia periode 2013–2022.

Komentar