REMBANG – Pengasuh Pondok Pesantren Pimpinan Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang KH Maimun Zubair mendukung pembangunan pabrik Semen Rembang dilanjutkan karena akan dapat menyerap tenaga kerja masyarakat setempat.
Malah dia mengkhawatirkan, potensi kerugian negara yang sangat besar jika pabrik semen di Rembang ditutup permanen. “Kalau negara mau bangkrut, ya tutup saja pabrik semen itu di selamanya,” kata Mbah Mun, sapaan akrab Mbah Mun dijumpai di kediamannya, kemarin.
Mbah Mun kemudian memberi contoh bagaimana industri gula yang semula dikuasi oleh negara, kemudian banyak perusahaan swasta yang terjun. Ketika industri gula dikuasai negara, petani tebu benar-benar menikmatinya, demikian juga masyarakat konsumen.
Namun setelah industri gula lebih banyak dikuasai swasta, petani tebu nasibnya tidak sebagus dulu. Dengan merujuk pada pengalaman pabrik gula, Mbah Mun berharap agar pabrik semen di Rembang yang dikelola oleh negara (BUMN) dapat dilanjutkan pengoperasiannya.
Untuk diketahui, pabrik semen di Rembang sebenarnya sudah siap untuk melakukan produksi. Uji coba produksi pun telah dilakukan dengan mengambil material bahan dari Tuban dan telah memproduksi 5-ribu ton. Namun, uji coba dan produksi tidak bisa dilanjutkan karena diperintahkan untuk berhenti operasi.
Mbah Mun berharap, keberadaan pabrik semen di Rembang dapat menyejahterakan rakyat di Rembang, dengan terbukanya lapangan pekerjaan. Pabrik semen di rembang menyerap ribuan pekerja asal Rembang, semenjak prakonstruksi, pembangunan pabrik maupun saat produksi semen kedepan. Itulah sebabnya Mbah Mun mendorong agar pabrik semen dapat dilanjutkan, yang selain menyerap tenaga kerja, juga menghindarkan kerugian negara melalui investasi BUMN tersebut.
Lengkapi Perijinan
Sementara itu itu Bupati Rembang Abdul Hafidz dan Ketua DPRD Majid Kamil kembali menegaskan dukungannya kepada PT Semen Indonesia untuk melengkapi perijinan yang diperlukan, guna berlanjutnya kegiatan produksi semen di plant Rembang. Apalagi, sebenarnya mayoritas warga Rembang pun mendukung keberadaan pabrik, setelah mereka merasakan manfaatnya.
Gus Kamil yang juga putra KH Maimun Zubair itu tidak menampik adanya warga yang berada di area Ring I, ada yang menolak keberadaan panbrik semen. Sekalipun demikian, walaupun jumlah mereka segelintir orang saja, namun karena dukungan pihak luar dan lantar bersuara di media, baik media main stream maupun media sosial, penolakan mereka seolah-olah mewakili mayoritas warga.
“Saya menyesalkan penutupan pabrik, tetapi saya juga menghormari hukum,” ujar Gus Kamil di Rembang. Dalam proses hukum sebenarnya, hingga tahapan kasasi di Mahkamah Agung, semua tahapan dimenangkan oleh PT SI. Namun, para penggugat kemudian mengajukan Peninjauan Kembali (PK), yang ternyata hakim kemudian memenangkan para penggugat.
Gus Kamil juga menyatakan terkejut saat mendapat informasi, bahwa novum yang diajukan para penggugat, ternyata di dalamnya ada data yang aneh mengenai warga yang diklaim menolak pabrik semen di Rembang. Aneh, karena di antara warga Rembang yang diklaim menolak PT SI, ada yang mengaku pekerjaannya presiden RI, menteri, power rangers, dan copet terminal. Selain itu, temuan Polda Jateng menunjukkan, 30 warga yang tanda tangan dalam daftar yang digunakan untuk novum ternyata masih balita.
Namun sekali lagi ditegaskan, untuk urusan hukum, baik Pemerintah maupun DPRD Kabupaten Rembang, tidak bisa ikut-ikutan. Selaku ketua DPRD Rembang, Gus Kamil hanya bisa mendorong agar PT SI segera menuntaskan perijinan baru dan hal lain yang dibutuhkan, agar pabrik dapat dimungkinkan kembali beroperasi. Sikap itu disampaikan, mengingat banyak warga Rembang yang telah menggantungkan kehidupannya pada pabrik semen di Rembang tersebut.
Ditemui secara terpisah, Bupati Abdul Hafidz juga mengungkapkan harapannya agar pabrik semen di Rembang dapat beroperasi. Sebagai kepala daerah, Hafidz merasa berkepentingan dengan adanya pabrik semen, karena keberadaannya dapat menyerap tenaga kerja baik dari daerah terdampak langsung (Ring I) maupun Rembang pada umumnya. Selain itu, keberadaan pabrik juga menambah pendapatan asli daerah (PAD).
Gus Kamil menambahkan, PT SI adalah satu-satunya perusahaan domestik yang juga merupakan milik pemerintah (BUMN), yang berinvestasi di Rembang dan telah menggelontorkan investasi Rp 5 triliun untuk pabrik tersebut. Seperti halnya Bupati Rembang, Gus Kamil juga menginginkan agar warga Rembang dapat terserap tenaga kerjanya di pabrik tersebut. Pihaknya siap mengawal, agar pabrik dapat menyerap tenaga kerja dari Rembang. (esa)






