Oleh Archandra Tahar
Tropical cyclone yang diberi nama Senyar telah terjadi di pulau Sumatera pada akhir November 2025. Storm ini terbentuk pertama kali dari Selat Malaka pada tanggal 25 November 2025 jam 1 pagi dengan kecepatan angin sekitar 35 mph (mile per hour). Storm dengan kecepatan angin 35 mph dikategorikan sebagai tropical depression.
Pada jam 7 malam masih di hari yang sama, kecepatan angin meningkat menjadi 40 mph dan menuju pulau Sumatera (sekitar kabupaten Aceh Timur). Storm ini sudah berubah kategori menjadi tropical cyclone atau tropical storm.
Dari data satelit yang tersedia, Tropical cyclone ini masuk ke Aceh Timur (Langsa) pada jam 4 pagi tgl 26 November dan kemudian keluar di Sumatera Utara (sekitar Medan) dalam waktu 18 jam. Inilah waktu dimana pulau Sumatera mengalami badai besar dengan kecepatan angin sekitar 40 mph.
Apakah tropical cyclone sama dengan typhoon atau hurricane? Kategori storm atau badai yang biasa dipakai adalah berdasarkan Saffir-Simpson Hurricane Intensity Scale. Dalam skala ini storm dikategorikan dari yang paling kecil intensitasnya ke yang paling besar dimana intensitas terkecil adalah tropical depression kemudian tropical storm dan berlanjut menjadi hurricane category 1, 2, 3, 4 dan 5.
Bagaimana dengan Senyar? Senyar pada awal terbentuk dikategorikan sebagai tropical depression kemudian membesar menjadi tropical storm atau tropical cyclone. Karena kecepatan angin masih disekitar 40 mph, maka Senyar belum bisa dikategorikan sebagai typhoon atau hurricane.
Sebagai catatan, Istilah typhoon lebih popular digunakan untuk badai yang terjadi di Jepang, Taiwan, China dan Philippine sementara istilah hurricane lebih dikenal di Amerika Utara. Pada prinsipnya typhoon dan hurricane itu sama dari segi intensitas tapi beda penamaan.
Pertanyaan yang banyak muncul adalah apakah tropical cyclone seperti Senyar ini pernah terjadi di Indonesia? Berdasarkan data lintasan badai (storm tracks) yang pernah terjadi selama 150 tahun dari tahun 1856, terlihat memang Indonesia hampir tidak pernah mengalami badai besar sekelas tropical cyclone apalagi typhoon.
Sahabat energi yang ingin melihat datanya sampai tahun 2006, silahkan akses website berkut:
https://eoimages.gsfc.nasa.gov/images/imagerecords/7000/7079/tropical_cyclone_map_lrg.gif
Namun demikian, kalau kita cermati lebih detail, Sumatera bagian utara sampai Singapore pernah dilintasi oleh tropical storm. Bagitu juga disekitar Laut Arafura dan Laut Timor. Sayangnya kami tidak punya data tentang kapan terjadinya tropical storm ini. Tapi paling tidak tropical storm ini pernah terjadi sebelum tahun 2006.
Dengan data lintasan storm ini, bisa jadi tropical storm Senyar adalah bagian dari badai yang terjadi dengan keberulangan sekian tahun (return periods). Artinya jenis badai ini pernah terjadi sekian puluh atau ratusan tahun yang lalu dan sekarang muncul kembali. Jadi bukan badai yang hanya terjadi sekarang saja.
Sebagai tambahan informasi, dalam merancang offshore structures kita menggunakan data ombak, arus dan angin dengan keberulangan 100 tahun (100-year return period) untuk kategori desain ekstrim. Untuk katergori operasional kita bisa menggunakan data ombak, arus dan angin dengan keberulangan 1 tahun (1-year return period).
Keberulangan dalam memahami terjadinya phenomena alam seperti tsunami, gempa dan badai adalah tanda-tanda yang bisa dipelajari oleh manusia dalam bingkai statistik. Kepastian hanya milik yang Maha Kuasa. Bahwa benar tropical storm adalah peristiwa langka untuk Indonesia, tapi belum tentu untuk wilayah Sumatera bagian Utara dan Semenanjung Malaka. Begitu juga untuk wilayah di sekitar laut Arafura dan laut Timor.
Kalau kita percaya bahwa tropical storm merupakan peristiwa keberulangan yang mungkin terjadi di utara Sumatera maka sudah saatnya wilayah ini mempersiapkan diri untuk peristiwa serupa di masa depan. Kita bisa belajar kepada Jepang, Taiwan, China dan Philippine dalam hal mitigasi kebencanaan ini.
Pertanyaan selanjutnya adalah apakah tropical storm ini terjadi karena perubahaan iklim? Seperti yang ditulis dalam report Kementerian Energi Amerika Serikat (23 Juli 2025) yang berjudul A Critical Review of Impacts of Greenhouse Gas Emissions on the U.S. Climate dan pernah kami ulas sebelumnya mengatakan bahwa tidak ada korelasi yang kuat antara terjadinya hurricane di Amerika Serikat dengan perubahan iklim.
Tentu pendapat dari Kementerian Energi Amerika Serikat menimbulkan pro and kontra. Banyak argumen yang telah disampaikan, tapi kalau kita selalu menyalahkan perubahan iklim sebagai pembenar terhadap terjadinya peristiwa alam, maka bisa jadi hal itu membuat kita lupa untuk mencari sebab yang sebenarnya.
Sebagai penutup, kita harus banyak belajar kepada alam sebagai guru yang selalu mengingatkan. Sayang kita kadang lupa terhadap peringatan itu. Semoga bermanfaat. (*)






