Oleh: Kol (Purn) dr Farhaan Abd
Pengantar Redaksi: Tulisan “ELEGIA REPUBLIK IGD” karya Kolonel (Purn) dr. Farhaan Abas adalah suara nurani yang menggugah dari seorang tokoh kesehatan Sumatera Barat, yang selama puluhan tahun mengabdi dan memimpin sejumlah rumah sakit di Kota Padang. Melalui elegi ini, beliau merespons pilu yang dialami seorang istri wartawan—yang dalam situasi darurat harus membawa suaminya berkeliling ke sejumlah instalasi gawat darurat (IGD), namun berulang kali ditolak karena persoalan administratif: tidak adanya rujukan BPJS, ketiadaan dokter jaga, hingga hanya dijumpai dokter koas. Tragedi itu berujung pada wafatnya sang suami di IGD RSUD, setelah berbagai upaya penyelamatan dilakukan. Puisi ini bukan sekadar ratapan, tetapi juga gugatan moral terhadap sistem kesehatan kita yang kerap membuat nyawa harus menunggu birokrasi. Sebuah refleksi tajam dari seorang dokter sekaligus pejuang kemanusiaan, yang mengajak kita semua untuk tidak membiarkan prosedur mengalahkan kehidupan. Selamat membaca:
ELEGIA REPUBLIK IGD
(“Drama Tour de IGD”)
Subuh tertelan lampu putih,
dan di leher seorang suami
tumbuh sebutir takdir—
kelenjar yang mengetuk pintu Tuhan
dengan napas terakhir manusia.
Istrinya mengusap minyak dan doa,
namun cinta tak mampu menunda prosedur.
Dari Hermina ke Yos Sudarso,
dari Djamil ke Ibnu Sina,
hingga RSUD—
ia berkeliling lima altar kematian,
membawa tubuh yang menunggu izin hidup
dari mesin administrasi.
Di setiap meja, ada pertanyaan:
“Umum apa BPJS, bu?”
Padahal yang sesak bukan dompet,
melainkan paru-paru yang memohon udara.
Dan rujukan— selembar kertas suci—
lebih berharga dari darah yang menetes
di ujung waktu.
Ketika akhirnya oksigen menjadi saksi,
dan detak menurun seperti bendera separuh tiang,
dokter berkata: “Allah berkehendak lain.”
Namun semua orang tahu:
yang lambat bukan Tuhan,
melainkan manusia yang terlalu pandai menunda.
Kini ia tidur di pangkuan doa,
di kota yang menunduk pada malam.
Facebook menjadi makam sunyi,
dan status terakhirnya adalah elegi republik—
tentang cinta yang kalah oleh sistem,
dan kematian yang harus mengantri tanda tangan.
Wahai Padang,
di bawah langitmu yang penuh lampu rumah sakit,
ingatlah:
ada seorang jurnalis
yang wafat bukan karena ajal,
tetapi karena kemanusiaan
terlambat datang menyelamatkan napasnya.
Padang, 2025






