Pengawasan

Prihatin Kekerasan Dunia Pendidikan, Karakter Harus Dibentuk Sejak Anak di PAUD

PARLEMENTARIA.COM– Kekerasan dalam dunia pendidikan belakangan ini semakin sering terjadi. Terakhir menimpa Ahmad Budi Cahyono, guru seni rupa SMA Negeri 1 Torjun Sampang, Madura, Jawa Timur.

Pahlawan Tanpa Jasa tersebut terpaksa meregang nyawa akibat dianiaya muridnya. Percaya dan tidak, tetapi itulah realita dunia pendidikan di tengah transformasi kehidupan sosial kemasyarakatan.

Kekerasan di dunia pendidikan ini menjadi perhatian anggota Komisi X DPR RI, Popong Otje Djundjunan. Ceu Popong, sapaan akrabnya perempuan kelahiran Bandung, 30 Desember 1938 mengaku prihatin dan menyayangkan kejadian tersebut. Untuk itu, ia meminta pihak terkait untuk mengalakkan pembentukan karakter anak sejak Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

“Pembentukkan karakter tidak bisa instan, harus sejak anak duduk di PAUD. Ini yang harus dipikirkan bersama, bahwa pendidikan karakter bukan pelajaran, tapi itu proses,” ungkap Ceu Popong dalam keterangan pers yang diterima Realitarakyat.com, Jumat (2/3).

Hari sebelumnya, Ceu Popong melakukan Kunjungan Kerja (Kunker) Komisi X DPR RI dengan meninjau SMKN V Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Kunker ini dipimpin Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Pada sisi lain, politisi senior Partai Golkar tersebut juga terus mengingatkan terkait penggunaan Bahasa Indonesia dan Daerah di era globalisasi ini yang utamanya di sekolah-sekolah.

“Kita jangan menghargai Bahasa Inggris lebih dari Bahasa Indonesia. Kita adalah Indonesia tunjukan ke- Indonesia itu adalah karakter. Gunakan Bahasa daerah, Bahasa Indonesia, baru Bahasa Inggris,” seru Ceu Popong.

Politisi tua ini memastikan, hal itu tertuang dalam UU Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa dan Lambang Negara, Serta Lagu Kebangsaan, masyarakat Indonesia diharapkan mengutamakan bahasa negara, yaitu bahasa Indonesia, sembari melestarikan bahasa daerah dan menguasai bahasa asing.

Dalam kesempatan yang sama, salah satu guru di SMKN V Banjarmasin juga turut menyampaikan misi pendidikan di Kalsel adalah mengembangkan sumber daya manusia yang agamis, sehat, cerdas dan terampil sesuai Perda No. 3 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Pendidikan.

“Peristiwa kekerasan dalam dunia pendidikan menjadi perhatian kita, untuk itu karakter anak harus dibentuk melalui pendidikan agama. Maka dari itu, sekolah memfasilitasi mushola untuk mendalami pendidikan agama, karena kita juga ingin adanya pembentukan karakter.”

Ceu Popong yang sudah menjadi wakil rakyat sejak pemerintahan Soeharto tersebut berharap siswa tidak hanya memanfaatkan teknologi tetapi juga ketakwaan.

Tujuan pendidikan nasional berdasarkan UU 20/2003 yaitu membentuk yang berahlak mulia baru menguasai ilmu teknologi. Ini harus menjadi perhatian kita.

“Tujuannya agar peristiwa anak yang berani kepada guru, terlibat narkoba serta pergaulan bebas tidak terjadi lagi. Kegiatan yang harus didorong adalah memantapkan keimanan,” demikian Popong Otje Djundjunan. (art)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top