Oleh Fahri Hamzah* –
SAYA mengenal pak Fatwa sejak lama sekali di banyak momentum. Beliau juga pernah tinggal dan lama di kampung saya di Sumbawa. Sebagai tokoh Bugis di Jakarta, tentu kami juga sama-sama memiliki darah Bugis kelahiran Bone.
Waktu saya tiba di jakarta, saya sudah mengenal beliau sebagai tokoh yang melegenda. Beliau terlibat dalam peristiwa-peristiwa poliitk pada masa lalu, baik orde lama maupun orde baru.
Beliau termasuk yang dipenjara lama karena tuduhan-tuduhan poltik di masa lalu. Lebih dari 12 tahun menjalani penjara yang vonis-nya seumur hidup.
Keaktifannya di organisasi-organisasi Islam seperti PII, HMI dan lain-lain, membuatnya menjadi dikenal luas di kalangan Islam dan non Islam.
Sebelum saya menjadi anggota DPR, kami bersama-sama di banyak tempat sebelum reformasi dan saat reformasi. Bersama almarhum Adi Sasono kami bersama aktif di ICMI dan bersama Prof Amien Rais kami bersama mendorong reformasi.
Saya ingat, malam itu tanggal 20 Mei 1998 berangkat dari rumah Prof Malik Fadjar di kawasan Menteng, kami meninjau kawasan Monas yang kabarnya sudah dikepung tentara.
Kami bertiga dengan pak Amien Rais naik mobil pak Fatwa, kijang (berwarna merah hati). Setelah melihat monas yang dipenuhi alat persenjataan berat kami kembali ke Menteng dan memutuskan untuk membatalkan aksi damai keesokan harinya yang ternyata malah pak Harto mengundurkan diri 21 Mei 1998.
Lalu kami pernah bersama-sama di DPR dan MPR. Saya mengenal secara dekat sekali. Cita-cita dan perjuangannya sejak awal sehingga kemampuan dan pandangan politiknya, dia seorang politisi Islam yang memmiliki observasi yang sangat luas pada persoalan sejarah, ke-Islaman dan ke-Indonesian.
Menurut saya dia itu seperti sisa akhir dari peninggalan politik Islam dari masa lalu. Karena itulah kepergian dia ini membuat kita kehilangan org yang pernah sangat ada di pentas politik di negeri ini.
Mudah-mudahan kita banyak mengambil banyak contoh dri pak Fatwa karena sesungguhnya dia merupakan politisi yang sangat senior dan meninggalkan bekas yang sangat mendalam.
Terakhir saya ada perbedaan pendapat tentang KPK sampai beliau sangat marah. Tapi entah mengapa pada hari berikutnya beliau mengirim surat meminta maaf, dan saya pun bertamu. Dalam kesempatan itu beliau ada permintaan khusus terkait masa depan politik saya pasca PKS, tetapi saya mendiskusikannya secara santai.
Selamat Jalan Pak Fatwa, kami semua pasti menyusulnmu. (*Wakil Ketua DPR)






