PARLEMENTARIA.COM– Ketersediaan obat untuk peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) bidang Kesehatan di fasilitas kesehatan sering mengalami kekosongan. Padahal secara esensial negara harus hadir dalam penggadaan obat baik dari segi logistik maupun pendistribusian.
Itu dikatakan anggota Komisi IX DPR RI Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Okky Asokawati, di Gedung Parlemen Senayan, Jakarta. “Ketersedian obat memang masih menjadi perhatian kami, karena akibat kekosongan obat ini masyarakat lagi yang terkena dampaknya. Mereka harus membeli obat di luar dengan mengeluarkan biaya sendiri,” kata Okky dalam siaran pers yang diterima Parlementaria.com, Jumat (24/3).
Dijelaskan, terjadi kekosongan obat di pelayanan kesehatan selama ini karena sistem yang kurang baik saat menentukan Formularium Nasional Kendalikan Biaya Pengobatan (Fornas) pihak Kementerian Kesehatan (Kemenkes).
“Ketersediaan obat menjadi langka karena memang ketika Kemenkes membuat Fornas laporan dari Satuan Kesehatan (Satkes) di daerah banyak yang tidak relevan seperti salah perhitungan, salah ketik dan juga karena APBD tidak mendukung dalam membuat perincian obat yang diperlukan,” jelas dia..
Harga obat yang terlalu murah, lanjut Okky, juga menjadi salah satu penyebab terjadinya kekosongan obat di RS, sebab banyaknya pabrik yang tidak mau memproduksi. Murahnya harga yang ditentukan Kemenkes disebabkan karena dalam menyusun Fornas pelaku industri tidak dikut sertakan.
“Keikutsertaan pelaku industri obat dalam FORNAS memang tidak ada. Selama ini yang menyusun FORNAS yaitu ahli Faramkologi dan Dokter yang kurang memperhitungkan aspek bisnisnya.”
Dia berharap Kemenkes dan BPJS bisa melihat kembali sistem Harga Pokok Penjual (COGS) yang digunakan zaman Asurasi Kesehatan (ASKES) terdahulu. Pasalnya, sistem itu mematok harga eceran tertinggi hingga tidak merugikan pelaku industri.
“Kemenkes dan BPJS bisa melihat sistem yang perna di buat ASKES itu, dalam arti kalau ada hal yang bagus kenapa tidak diambil, bukan berarti dirubah semua. Hal itu malah hanya menyebabkan masyrakat yang mengalami kerugian,” demikian Okky Asokawati. (art)






