PARLEMENTARIA.COM– Sumber Alam Hayati (SAH) milik Indonesia yang begitu besar harus dilindungi dari ancaman masuknya hama dan penyakit tumbuhan. Untuk melindunginya, karantina sebagai badan perlindungan resmi pemerintah harus diperkuat.
Hal itu dikatakan Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Herman Khaeron usai acara pemusnahan berbagai komoditas pertanian yang masuk ke Indonesia secara ilegal di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, pekan ini.
Dikatakan politisi Partai Demokrat ini, Indonesia merupakan negara yang punya biodiversity kedua terbesar di dunia setelah Brasil. Kekayaan yang melimpah itu harus dilindungi dengan cara mengantisipasi masuknya hama tanaman dan penyakit hewan ke dalam negeri.
Untuk itu, kata Herman didampingi Kepala Badan Karantina Pertanian, Banum Harpini dalam kunjungan kerja spesifik ke Provinsi Banten, pihaknya mendukung Kementerian Pertanian (Kementan) meningkatkan kemampuan Badan Karantina terutama terhadap peningkatan perdagangan komoditas pertanian online.
Data yang dimiliki Kementan, transaksi e-commerce 2016 mencapai Rp 319,8 triliun. Karena itu, Badan Karantina Pertanian harus terus meningkatkan kerjasama dengan instansi terkait, seperti dengan Kantor Pos yang tersebar sampai ke polosok daerah.
Selain pencegahan, lanjut wakil rakyat dari Daerah Pemilihan (Dapil) Kabupaten/Kota Cirebon dan Indramayu ini, Komisi IV juga mendorong Karantina mengembangkan sistem layanan elektronik guna mengakselerasi layanan publik di bidang perkarantinaan, salah satunya melalui PriokQ Klik.
Sistem layanan ini memungkinkan pengguna jasa Karantina Pertanian di Pelabuhan Tanjung Priok dimana sebagian besar layanan ekspor produk melalui pintu ini, dapat memproses, memonitor dan mendapatkan layanan Karantina Pertanian secara mudah, cepat dan bahkan tidak perlu melalui kantor, cukup melalui gawai pribadi.
“Saat ini, PriokQ Klik mendapat sambutan yang cukup baik dengan telah diakses oleh 44.970 pengguna dengan rata-rata 400 akses per hari. Dari sisi manajemen pun kini telah mampu mengevaluasi SLA secara real time. Ke depan inovasi ini akan terus dievaluasi dan diduplikasi pada unit kerja teknis lain.”
Kepala Badan Karantina, Banun mengatakan, pentingnya kesehatan tumbuhan sebagai mata rantai dasar penciptaan pangan dan pakan. Tanpa produksi tumbuhan, tidak ada pangan buat manusia dan juga pakan bagi hewan. Karenanya penyakit pada tumbuhan perlu diantisipasi agar tidak merugikan kesehatan manusia juga perekonomian bangsa.
Contoh, wabah penyakit pada tumbuhan yang 2013 yakni Cylella Fastidiosa. Wabah ini menyerang sentra kebun Zaitun di Italia yang telah merusak mata pencaharian petani, pemilik pembibitan, para pedagang karena kualitas dan fluktuasi harga minyak Zaitun yang tidak stabil.
Juga terjangkitnya nematoda pada pohon Pinus di Portugal yang telah menyebabkan kekrugian ekonomi yang signifikan bagi industri kayu lokal sejak tahun 1999. Jutaan pohon Pinus hancur, industri pengolahan kayu terkena dampak negatif dan kita tetap berimbas terhadap meningkatkan biaya karena semua kayu Pinus harus dilakukan heat treatment sebelum dapat meninggalkan wilayah Portugal.
“Ke depan peningkatan kesadaran masyarakat, terutama pada penumpang moda lalulintas baik darat, laut dan udara perlu terus ditingkatkan guna menjamin kesehatan dan keamanan rantai manakan juga stabilitas perdagangan komoditas pertanian kita,” ungkap Banun.
Acara pemusnahan pelbagai komoditas tumbuhan ilegal asal 20 negara ini merupakan hasil sitaan Balai Besar Karantina Pertanian Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang yang bekerjasama dengan pihak Kantor Pos Besar Jakarta, pada periode triwulan akhir tahun 2016.
Pemusnahan ini bersamaan juga dengan pemusnahan bawaan para penumpang berupa hewan, tumbuhan dan produknya dilakukan dengan cara dibakar pada alat incinerator di Instalasi Karantina Hewan (IKH) Balai Besar Karantina Pertanian Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang.
Perdagangan komoditas pertanian asal manca negara melalui online menunjukan tren yang meningkat. Namun, sayangnya belum dibarengi dengan kesadaran untuk memeriksakan kesehatan tumbuhan dan hewan dari negara asal.
Untuk komoditas tumbuhan 20 negara asal komoditas tersebut masing-masing diantaranya, Amerika Serikat, Spanyol, Cekoslovakia, Thailand, China, Belanda, Jerman, Korea Selatan, Singapore, Malaysia, Inggris, Francis, Filiphinna, Rusia, Australia, Belgia, Brazil, Italia, Saudi Arabia, dan Selandia Baru. Sementara, untuk komoditas hewan berjumlah 242,55 Kg, masing-masing 211 kg asal China dan sisa dari Uni Emirat Arab, Korea Selatan, Malaysia dan Taiwan. (art)






