Breaking News
Daerah

KAI Kaji Jalur Rangkas-Labuan-Bayah

×

KAI Kaji Jalur Rangkas-Labuan-Bayah

Sebarkan artikel ini

JAKARTA– Untuk memberikan layanan angkutan massal kepada warga di daerah Rangkas Bitung-Labuan-Bayah, Provinsi Banten, PT Kereta Api Indonesia (Persero) segera mengkaji pembangunan jalur kereta api Rangkas Bitung-Labuan-Bayah.

Kepala Humas PT KAI Daop I Bambang Setiyo Prayitno awal pekan ini mengatakan, pengoperasian jalur kereta api tersebut guna mendukung percepatan pembangunan sehingga akses transportasi begitu mudah.

Pemerintah Provinsi Banten sudah mengusulkan pembangunan jalur KA Rangkasbitung-Labuan-Bayah diaktifkan kembali. Pembangunan jalur KA penting sebagai sarana penunjang transportasi angkutan massal.

Selain itu, juga memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat di daerah sekitarnya. “Saya kira jika sarana transportasi itu tersedia maka percepatan perekonomian masyarakat berkembang pesat.”

Pembangunan jalur KA Rangkas Bitung-Labuan-Bayah guna mendorong pemerataan antara utara dan selatan Provinsi Banten. Ini membuka akses pertumbuhan ekonomi masyarakat wilayah selatan Kabupaten Lebak. “Kami berharap pembangunan jalur KA wilayah Banten selatan tidak terlalu lama lagi.”

Kepala Dinas PerhubunganKabupaten Lebak, Alkadri mengatakan, pihaknya akan mengawal jika pembangunan rel KA itu direalisasikan baik Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) dan sosialisasi kepada masyarakat.

Tidak tertutup kemungkinan rel KA Rangkas Bitung-Labuan-Bayah sudah berubah menjadi permukiman, perumahan juga ada yang longsor. Juga membantu pendataan pembuatan Analisis Dampak Lingkungan (Amdal) dan perencanaan lainya.

Pendataan ulang dan pemetaan jalur perlu dilakukan, karena jalur itu dihentikan operasinya tahun 1960-an. “Kami akan memberikan sosialisasi kepada masyarakat khususnya warga yang menempati tanah milik PT KAI secara iklas tidak menuntut ganti rugi,” kata dia.

Saat ini biaya angkutan untuk memasarkan hasil komoditas pertanian dan perkebunan ke wilayah utara cukup tinggi. Mereka mengangkut hasil bumi menggunakan angkutan truk maupun colt diesel dengan biaya lima kali lipat dibandingkan KA.

Selain itu juga pengoperasian moda transportase KA dapat mensejajarkan pemerataan pembangunan antara wilayah utara dan selatan. “Kami berharap jalur KA itu bisa dioperasikan lagi sehingga berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat,” demikian Alkadri. (art)

Komentar