Breaking News
HeadLinePolhukam

Letjen Agoes Sutomo: Masyarakat Harus Yakin TNI Setia dan Tahu Lindungi NKRI

×

Letjen Agoes Sutomo: Masyarakat Harus Yakin TNI Setia dan Tahu Lindungi NKRI

Sebarkan artikel ini

JAKARTA– Seluruh rakyat Indonesia untuk tetap setia terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Tentara Nasional Indonesia (TNI) sangat tahu kapan saatnya mengambil sikap kalau negara memang dalam keadaan genting.

“Masyarakat harus yakin TNI tetap setia kepada NKRI dan rakyat,” ungkap Komandan Sekolah Staf dan Komando (Dansesko) TNI, Letnan Jenderal (Letjen) TNI Agoes Sutomo pada Rangkuman materi Geopolitik dan Geostrategi Indonesia dalam kaca mata inteligent Sabtu (31/12).

Dikatakan, jika mendengar presentasi Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo tentang perspectif ancaman pada acara Indonesia Lawyer Club (ILC) yang lalu, kita akan paham kenapa Indonesia menjadi sasaran incaran negara maju di dunia.

Kekuatan asing, yang mengincar Indonesia, kata Agoes, sangat berharap Indonesia rusuh, perang saudara seperti Suriah atau negara-negara di Timur Tengah saat ini.

Untuk itu, kata dia, mereka telah membuat dan melakukan skenario (ibarat lingkar obat nyamuk) secara sistematis melakukan proxy war pelemahan Ketahanan Nasional Indonesia dari masa ke masa secara bertahap dan halus

Pelemahan sistem pertahanan kita itu, lanjut Jenderal Bintang Tiga TNI AD tersebut, meliputi semua bidang. Mulai dari ekonomi, politik, hukum, peraturan perundangan, sejarah, media informasi, pergeseran watak prilaku bangsa, gaya hidup, institusi pemerintah, termasuk pelemahan TNI baik secara fungsi dan wewenang.

“Pelemahan sistem pertahanan ini tentu melalui operasi inteligent masive dan terstruktur. Ada State /non state negara/kelompok elit (user), ada agent handle, di bawahnya agent action, di bawahnya lagi informan berlapis,” kata Agoes.

Kemudian, lanjut dia, tiap struktur dan bahagian ini bergerak menurut tupoksinya masing masing, dimana di antara sesama mereka pun tidak saling mengenal. Yang tahu hanya SANG USER.

“Mereka di bayar, di latih, untuk melakukan operasi operasi cipta kondisi bahkan sabotase dengan bantuan dana tanpa batas serta dukungan power politik yang kuat.”

Masing-masing agent ini masuk melebur kedalam sendi sendi kehidupan bernegara kita. Ada yang masuk dan menjadi tokoh negarawan, dosen, pengamat, pejabat publik, institusi pemerintahan (Eksecutive, legislatif, yudicative), dunia perbangkan, dunia perfilman,

Bahkan sampai ke istana dan tubuh TNI-POLRI sekalipun. “Agent handle sebagai pengendali, Agent action sebagai eksekutor, informan sebagai pengumpul informasi lapangan,” tegas Agoes.

Masing-masing agent ada yang bergerak sebagai pendukung, kontra, pihak ke tiga dari pemerintahan. Semua bergerak dalam rangka mengamankan setiap kepentingan USER di Indonesia.

Salah satu contoh yang marak sekarang, jelas Agoes, adalah bagimana merekayasa terjadi gejolak kerusuhan di Indonesia.
Untuk menciptakan gejolak masing agent bergerak untuk menanamkan rasa saling benci, saling curiga, saling buruk sangka, diantara sesama anak bangsa.

Itu juga baik antar suku, antar agama, antar ormas, antar ulama antar pengamat, antar kampus, antar parpol, antar tokoh bangsa, termasuk antar institusi. “Kita semua seolah di paksa dan di giring ke satu titik yaitu PERANG. sekecil apapun masalah akan di peruncing dan di provokasi. Timbal balik,” jelas Agoes.

Tujuannya hanya satu, menjadikan anak bangsa menjadi bangsa yang sinis, egois, ambisius, sadis, anti kebersamaan. “Kita di jauhkan dari sifat asli bangsa Indonesia seperti, pejuang, militan, pemberani, kuat, kompak, suka bermusyawarah, gotong royong.”

Jadi, kalau ada kejadian disekitar kita yang diluar kewajaran, itu adalah salah satu bentuk hasil kerja para agent itu. Karena perang saudara adalah hal yang sangat di inginkan USER asing terhadap indonesia. Agar kita akhirnya terpecah belah, hancur lebur, lemah untuk kemudian mereka kuasai (Jajah).

Solusi yang terbaik, jelas Agoes, jadilah kita kembali menjadi jati dirinya orang Indonesia. Sebuah kesadaran kolektif senasib satu bangsa dan satu rasa cinta tanah air. Tak ada pandang SARA. Kita adalah sebuah bangsa yang kuat dan bersaudara.

“Jangan mau terpancing untuk menjadi “Tidak Waras” (Sesuai keinginan USER) untuk punya keinginan saling bunuh, saling memerangi, saling menghabisi antar sesama anak bangsa. Persoalan politik diselesaikan dengan cara politik yang moderat.”

Kalau Indonesia pecah perang saudara, banyak negara sekitar kita yang tepuk tanga dan bahagia. Sebaiknya kembali kepada UUD 1945 dan Pancasila sebagai pemersatu bangsa karena itu di buat para Founding Father melalui perenungan, pemikiran, dan penghayatan yang sangat dalam sesuai dengan kondisi bangsa.

“Ikat kembali rasa persatuan sesama anak bangsa. BUNUH segala bentuk skenario para USER tersebut dengan tidak mudah terpancing, dan justru merekat kembali rasa persaudaraan,” tambah Agoes.

Bagi pemuda idealis dan nasionalis, Agoes mengajak ikut berjuang mengambil peran dan posisi strategis negara untuk melakukan perbaikan moral dan cita-cita bangsa.

“Percayalah. TNI tetap solid dan setia terhadap NKRI. Bersama Rakyat TNI Kuat. TNI tahu kapan saat yang tepat mengambil sebuah keputusan disaat negara genting,” demikian Agoes Sutomo. (art)

Komentar