Parlementaria.com — Rencana menghidupkan kembali Tour de Singkarak mendapat tanggapan dari salah satu “bidan” kelahirannya, Raseno Arya. Ia menegaskan bahwa _event_ bertaraf internasional tersebut hanya bisa kembali berjaya jika didukung komitmen kuat pemerintah pusat dan daerah, serta dikelola oleh tim yang benar-benar berpengalaman.
Raseno mengenang, gagasan awal Tour de Singkarak lahir dari perenungan Dirjen Pemasaran Kemenbudpar, Bapak Sapta Nirwandar, yang saat itu melihat perlunya event kelas dunia untuk mengangkat pariwisata Sumatera Barat.
Ide tersebut kemudian ditugaskan kepada Raseno untuk dikonkretkan dalam bentuk event internasional.
“Waktu itu kami mulai dari nol. Saya diminta memikirkan konsepnya, lalu kami undang PB ISSI bersama dua wartawan asal Sumbar, Syafruddin AL dari Singgalang dan Erwin Nurdin dari Bisnis Indonesia, untuk rapat awal. Dari sanalah Tour de Singkarak mulai dirancang,” ujar Raseno kepada Parlementaria.com, siang ini via WA.
Persiapan dilakukan sejak 2008, dan pada 2009 _event_ perdana akhirnya digelar.
Raseno sendiri terlibat langsung dalam penanganan Tour de Singkarak hingga 2017. Ia menilai event tersebut terbukti mampu mengangkat citra Sumatera Barat di mata dunia, sekaligus menggerakkan ekonomi daerah.
Namun, menurutnya, menghidupkan kembali Tour de Singkarak bukan perkara sederhana. Selain membutuhkan perencanaan matang, juga diperlukan koordinasi lintas sektor yang kuat, mulai dari infrastruktur, keamanan, hingga promosi internasional.
“Ini bukan sekadar lomba sepeda. Ini membawa nama baik Indonesia di panggung dunia. Jadi harus ditangani oleh orang-orang profesional yang punya pengalaman, bukan coba-coba,” tegasnya.
Raseno juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan stakeholder terkait agar Tour de Singkarak bisa kembali menjadi event unggulan, seperti pada masa kejayaannya.
Dengan dukungan yang tepat, ia optimistis Tour de Singkarak dapat kembali menjadi magnet wisata internasional dan memberikan dampak signifikan bagi sektor pariwisata Sumatera Barat.
“Kalau dikelola dengan serius, dampaknya besar. Bukan hanya untuk pariwisata, tapi juga ekonomi masyarakat. Itu yang dulu kita rasakan,” tutupnya. (sal)






