Breaking News
ASPIRASI DAERAHBerandaOpiniSorotan

Innaya dan Jalan yang Terputus

×

Innaya dan Jalan yang Terputus

Sebarkan artikel ini

Oleh Akmal Darwis / Wartawan Senior

Namanya Innaya. Usianya 14 tahun.
Ia satu dari puluhan penggalas penganan tradisional bika di tepi jalan raya Padang–Bukittinggi, tepatnya di kawasan Kapalo Hilalang, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat.

Sepulang sekolah, Innaya tidak langsung beristirahat. Ia menjaga warung kecil milik ayahnya. Di etalase kaca, tersusun puluhan bika panggang berukuran kecil—khas Kapalo Hilalang—yang dibuat pagi itu juga.

Di bagian atas etalase, kini terpasang tulisan sederhana dari kertas laminasi:
“Bika Panggang INNAYA”
Nama itu bukan sekadar panggilan. Ia telah menjadi merek dagang kecil yang lahir dari dapur sederhana dan harapan keluarga.

Namun sejak jalan raya di kawasan Lembah Anai putus akibat banjir dan galodo pada akhir November 2025, kehidupan ekonomi di sepanjang jalur nasional itu seakan berhenti berdenyut. Warung-warung kecil yang dahulu ramai kini seperti “mati suri”.

Jika pada hari-hari normal bika yang dijual bisa menghasilkan omzet hingga Rp400.000 per hari, kini terkadang hanya laku seratus ribuan. Mobil dan sepeda motor jarang singgah. Arus kendaraan menurun drastis.

“Bapak pembeli kedua hari ko,” tutur Innaya lirih ketika kami mampir sekitar pukul 14.45 suatu siang.
Di etalase tampak sekitar 55 biji bika masih tersisa. Sudah dingin, tetapi tetap nikmat. Harganya Rp1.000 per biji—murah, terjangkau, dan sarat cita rasa tradisi.

Di sekitar warung Innaya terdapat sekitar 18 penggalas bika serupa. Ada pula penjual panyiaram—penganan khas Minangkabau yang biasa dijumpai di sepanjang jalur Kayu Tanam–Kapalo Hilalang–Sicincin, Padang Pariaman.
Rantai Ekonomi yang Ikut Terputus
Putusnya jalan Lembah Anai bukan hanya memukul pedagang kecil di pinggir jalan. Dampaknya menjalar jauh ke hulu.

Para penumbuk beras ikut merasakan sepi. Beras kualitas terbaik ditumbuk, diayak hingga menjadi tepung beras yang terkenal gurih dan segar. Tepung beras asal Padang Pariaman memiliki cita rasa berbeda dibanding produk industri besar. Berasnya berasal dari padi pilihan, dipanen di atas usia 120 hari. Dijemur pagi hari hingga kadar airnya sekitar tujuh persen. Proses tradisional itulah yang menjaga kualitas rasa.

Dari tepung itulah bika Innaya dibuat. Tepung dicampur parutan kelapa setengah tua yang manis, dibalur gula rafinasi khusus kue yang diedarkan Bulog. Adonan kemudian dituangkan ke cetakan beralas daun haru—daun yang memberi aroma khas—lalu dipanggang di atas bara sabut kelapa.

Harumnya menguar, legitnya melekat.
Ukuran bika panggang Kapalo Hilalang kecil-kecil. Berbeda dengan bika Mariana di kawasan Koto Baru, sekitar 12 kilometer menjelang Bukittinggi, yang berukuran lebih besar.

Sebelum jalan Lembah Anai terputus, kawasan ini tak pernah sepi. Di Kelok Cinta, belasan pedagang pargedel jagung berjejer di bangunan kayu. Bus umum selalu berhenti beberapa menit. Para pedagang naik ke dalam bus menawarkan dagangan.

Kini, semuanya berubah.
Jalan buka tutup, Ekonomi Tercekik
Sejak jalan Lembah Anai tidak dapat dilewati kendaraan dan hanya dibuka-tutup pada pukul 17.00 hingga 08.00 pagi, aktivitas ekonomi lumpuh.

Pinggiran jalan sedang diperkuat dengan batu-batu besar—material yang sebelumnya dihanyutkan banjir dan galodo yang memporakporandakan badan jalan.

Menjelang kawasan air terjun Lembah Anai, puluhan lapak UMKM berdiri. Di depannya ada rumah makan, warung kopi, hingga bengkel tambal ban. Semua kini merasakan nasib serupa: sepi.

“Bapak wartawan ya?” sapa ayah Innaya sambil mengantar dua gelas kopi hangat yang kami pesan.

Mungkin ia menebak dari kamera yang dibawa rekan kami, Ujang Al (Syafruddin AL), Pemred Parlementaria.com.

Lalu Innaya bertanya pelan, “Kapan pekerjaan perbaikan jalan raya Lembah Anai selesai, Pak?”

Pertanyaan yang sama terucap dari banyak penggalas di sepanjang Kapalo Hilalang.

Ribuan Kepala Keluarga Bergantung
Ekonomi warga sepanjang jalur itu sangat bergantung pada baik-buruknya kondisi jalan raya.

Bukan hanya ratusan, bisa jadi ribuan kepala keluarga yang menggantungkan hidupnya pada lalu lintas kendaraan.
Petani padi.

Pemilik huller penumbuk beras.
Pengolah tepung beras.
Pemasok kelapa.
Petani jagung di sekitar Pariaman.
Hingga pedagang minyak goreng merek Kita.

Salah satu yang terdampak besar adalah Resto Upiak Banun—bangunan minimalis dua lantai bercat putih yang menghadap jalan raya Padang–Bukittinggi di Kompleks ISN Kayutanam.
Biasanya ribuan pengendara sepeda motor dari Padang menuju

Padangpanjang, Bukittinggi, hingga Payakumbuh berhenti di sana. Setelah berkendara sekitar satu setengah jam, mereka beristirahat, meneguk kopi atau teh hangat untuk mengusir dingin pegunungan.

Kini, pengunjung nyaris tak ada.
UMKM sepanjang jalur itu seolah menunggu denyut jalan kembali normal.
Harapan Menjelang Lebaran

Perbaikan jalan terus dikebut siang dan malam. Pada waktu-waktu tertentu, pekerja bekerja dua shift di bawah komando PT Hutama Karya.
Harapan menggantung di udara pegunungan yang sejuk itu.

Diperkirakan, sepekan menjelang dan sepekan setelah Lebaran Maret 2026, jalan raya tersebut bisa digunakan secara normal. Insya Allah. Namun pekan berikutnya akan ditutup kembali hingga pekerjaan perbaikan tuntas dilaksanakan.

Bagi Innaya dan puluhan penggalas kecil lainnya, jalan yang tersambung kembali bukan sekadar infrastruktur.

Ia adalah napas.
Ia adalah harapan.
Ia adalah kehidupan.

Dan mungkin kelak, jika jalan itu kembali ramai, orang-orang tak hanya singgah untuk membeli bika.

Mereka akan bertanya,
“Mana Bika Innaya?”
Sebab di balik bika seharga seribu rupiah itu, ada mimpi seorang anak 14 tahun yang tak pernah putus, meski jalannya sempat terhenti. (*)

Komentar