Oleh Benz Jono Hartono/Praktisi Media Massa
Buka
Kalau di dunia ranjang, threesome itu fantasi nakal, tiga orang saling menyetubuhi, semua pihak sama-sama rela, semua puas, semua basah.
Tapi di republik ini, threesome politik justru lebih bejat, tiga poros elit saling menindih, saling masuk, saling keluar, tapi rakyat dipaksa ikut masuk kamar tanpa pernah ditanya setuju atau tidak.
Siapa yang Lagi Main di Kasur Republik?
1. Prabowo Subianto presiden baru yang pengen tampil perkasa. Masih cari gaya, kadang mau dominan, kadang takut tumpah terlalu cepat. Dia butuh main lama, biar nggak malu di depan lawan dan kawan.
2. Jokowi mantan yang nggak mau move on. Meski udah turun panggung, tetap nongkrong di balik pintu, kadang nyelonong ikut nimbrung. Tipe “eks” yang masih pengen nyicip barang lama.
3. Purnawirawan TNI–POLRI senior, meski ubanan, mereka masih doyan ikut pesta. Nafsu kekuasaan ternyata lebih awet ketimbang stamina badan. Kalau ada kasur empuk, mereka pasti ikut gelar bantal.
4. Sembilan Naga ini bukan pemain, tapi mucikari sekaligus penyewa kamar. Mereka nggak perlu ngapa-ngapain, cukup lempar duit, sediakan hotel, dan atur skenario. Hasilnya? Konsesi tambang, izin impor, dan monopoli bisnis mengalir mulus ke rekening.
*Kerusuhan Pemanasan Foreplay*
Kerusuhan di jalan bukan ledakan spontan rakyat, tapi semacam foreplay biar suhu kamar naik.
Ada yang nyetel musik agama,
Ada yang menyalakan lilin nasionalisme,
Ada yang melempar bumbu kebencian etnis.
Rakyat dikerahkan jadi “sex toy politik”, dipakai rame-rame, diperas emosinya, lalu ditinggalkan kering kerontang begitu pesta selesai.
Saling Tindih, Saling Tusuk
Dalam threesome politik ini, nggak ada posisi permanen. Kadang Prabowo di atas, Jokowi di bawah. Kadang jenderal tua nyelonong dari belakang. Semua saling tusuk, semua saling tindih, semua pura-pura nikmat.
Dan ketika sudah capek, mereka rebah di kasur oligarki sambil merokok kemenangan. Yang rugi? Rakyat. Mereka cuma jadi lubang tanpa hak suara, dipaksa menanggung beban hutang, pajak, dan harga naik.
Rakyat Bukan Pasangan, Tapi Korban Perkosaan
Bedanya dengan threesome di kamar yang ada kesepakatan, politik Indonesia itu seperti pesta bejat tanpa restu. Rakyat dipaksa masuk ranjang, diikat tangan kakinya, lalu dipakai bergantian oleh elit yang syahwatnya tak terbendung.
Setelah itu, rakyat dilempar keluar kamar dalam keadaan robek, berdarah, dan lapar. Sementara elit dan oligarki tidur nyenyak dengan perut kenyang, kantong tebal, dan kontrak bisnis baru.
Tutup
Politik Indonesia hari ini bukan sekadar threesome. Ini lebih mirip gangbang oligarki, elit politik, mantan presiden, jenderal sepuh, dan konglomerat naga saling berpenetrasi, sementara rakyat dipaksa jadi properti yang bisa dipakai sesuka hati.
Dan selama rakyat cuma diam, pesta bejat ini akan terus berlangsung, kamar berganti, posisi berubah, tapi nafsu syahwat kekuasaan tetap sama— tidak pernah puas.(*)






