Breaking News
Politik

Jamiluddin Ritonga: Perubahan Logo PSI Bisa Jadi Bumerang

×

Jamiluddin Ritonga: Perubahan Logo PSI Bisa Jadi Bumerang

Sebarkan artikel ini

PARLEMENTARIACOM – Pengamat komunikasi politik M Jamiluddin Ritonga menilai perubahan logo Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dari bunga melati menjadi gajah tidak akan dengan sendirinya dapat mendongkrak perolehan suara secara signifikan pada Pemilu 2029.

Dia menyebutkan dua dua penyebabnya. Pertama, karena Kaesang Pangarep kembali menjadi ketua umum. “Padahal, selama menjadi ketua umum, Kaesang tidak berhasil membawa PSI masuk Senayan,” kata Jamil kepada media ini Senin (21/5/2025).

Selain itu, Kaesang juga tidak punya prestasi yang layak dibanggakan selama menjadi ketum PSI. Karena itu, dia menilai aneh PSI sebagai partai anak muda masih memberi kepercayaan kepada Kaesang untuk memimpin partai berlogo gajah tersebut.

“Karena itu, perubahan logo kiranya tidak bermakna banyak bila tidak diiringan perubahan kepemimpinan di PSI. Kaesang misalnya, bukan sosok yang mencerminkan kekuatan, kebijaksanaan, kesetiaan, dan kelembutan hati sebagaimana filosofi gajah,” katanya.

Jadi, jelas Jamil, sosok Kaesang justru kontradiksi dengan makna logo PSI. Hal ini kiranya akan menjadi bumerang bagi PSI dalam Pileg 2029.

Kedua, perubahan logo masih belum diikuti perubahan internal di PSI. Partai ini masih mengidolakan Joko Widodo (Jokowi) dan menilainya sebagai sosok yang berjasa dalam membesarkan partai.

Hal itu memperkuat penilaian masyarakat bahwa PSI masih tetap identik dengan Jokowi. Sementara belakangan ini Jokowi semakin kerap mendapat opini negatif.

“Karena itu, sulit membalikkan opini negatif yang ditujukan kepada Jokowi dan keluarganya. Hal ini kiranya akan berimbas pada PSI yang dinilai masih identik dengan Jokowi,” katanya.

Jadi, jelas Jamil, perubahan logo PSI tanpa ada perubahan internal akan sulit meningkatkan elektabilitas. Bahkan perubahan logo itu berpeluang akan menjadi bumerang bagi PSI.

“Bahkan logo gajah tidak menggambarkan sosok Jokowi. Hal ini kiranya akan semakin sulit untuk mengubah persepsi masyarakat yang lebih baik terhadap PSI,” kata mantan Dekan FIKOM IISIP Jakarta itu. (*)

Komentar