Oleh M Jamiluddin Ritonga*
PRESIDEN Prabowo Subiakto diinformasikan akan memberi tugas khusus kepada Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming Raka untuk berkantor di Papua.
Kalau informasi itu benar, tentu menjadi kebanggaan bagi rakyat Papua. Sebab, pembangunan fisik dan penanganan masalah HAM di Papua akan ditangani dan diawasi langsung oleh wakil presiden.
Hal itu kiranya sebagai wujud kepedulian dan penghormatan Presiden Prabowo terhadap Papua. Prabowo dengan mengutus wakil presiden berkantor di Papua, menjadi bukti keinginan pusat untuk secepatnya memajukan pulau cendrawasi tersebut.
Karena itu, selayaknya warga Papua bersuka cita menyambut kedatangan Gibran di Papua. Sebab, Papua akan menjadi satu satunya pulau di Indonesia yang pembangunannya langsung dipimpin wakil presiden.
Namun demikian, penugasan Gibran ke Papua juga berpeluang ada plus minusnya. Plusnya bila Gibran nantinya berhasil membangun fisik Papua dan masalah HAM dapat ditangani dengan baik.
Kalau berhasil, tentu Prabowo akan menjadi hero bagi warga Papua. Prabowo dan pusat akan dinilai sebagai bapak pembangunan dan penegak HAM di Papua.
Minusnya, bila Gibran gagal membangun Papua sesuaì ekspektasi warga setempat. Termasuk juga bila gagal menangani masalah HAM di Papua.
Bila minus itu yang terjadi, kepercayaan warga Papua terhadap Prabowo dan Pusat akan menurun drastis. Hal itu berpeluang akan mengganggu stabilitas nasional.
Karena itu, perlu ditimbang matang menugaskan Wapres Gibran berkantor di Papua. Jangan sampai keinginan Prabowo untuk mempercepat pembangunan di Papua, justru menghasilkan sebaliknya. Hal ini tentu akan menjadi bumerang bagi Prabowo dan Pusat. Tentu hal ini tidak dikehendaki Prabowo yang memang tulus untuk memajukan Papua. (*Pengamat komunikasi politik)






